Wednesday, July 14, 2010

Celoteh Dari Sekitar Kita


Ini merupakan hasil wawancara saya dengan seorang pedang kaki lima yang berjualan di depan kampus ITB. Saya sangat beruntung karena orang yang saya wawancarai bersikap kritis, peduli dan informatif.

Saya : Selamat siang Bapak, bisa minta waktunya sebentar untuk wawancara?

Bapak Mujahidin : Siang nak, boleh

Saya : Perkenalkan saya ..... mahasiswa kimia ITB 2008.

Bapak Mujahidin : Saya Mujahidin..
Saya : Asli orang bandung Pak?

Bapak Mujahidin : Bukan saya orang Sumatera barat. Merantau ke Bandung tahun1971

......
Saya : Sejak kapan Bapak berjualan susu murni?

Bapak Mujahidin : Sejak Tahun 1999

......
Saya : Setelah sekian lama berjualan di depan kampus ITB, menurut bapak
bagaimana Mahasiswa ITB itu sendiri?
Bapak Mujahdin : Menurut saya, mahasiswa ITB itu baik, peduli dengan masyarakat sekitar,
membantu pemberdayaan masyarakat sekitar tapi belum berhasil

Saya : Harapan bapak kepada mahasiswa ?

Bapak Mujahidin : Bisa membawa bangsa keluarga dari segala permasalahan birokrasi, dan
berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat kurang mampu
Tidak hanya menjanjikan pemberdayaan masyarakat sebatas pada konsep

...........
Saya : Apakah Bapak punya kegiatan lain selain berjualan?
Bapak Mujahidin : Saya juga memjabat sebagai Ketua koperasi Serba Usaha Ganyang

Saya : Bisakah Bapak menceritakan tentang koperasi tersebut?

Bapak Mujahidin : Koperasi Serba Usaha (KSU) ganyang berdiri pada tahun 2003
Merupakan 3 terbaik Koperasi Serba Usaha
Program jangka panjang ini selain sebgai kopersai serba usaha adalah
pengurus ingin memberdayakan masyarakat sekitar ganyang sehingga
menjadi percontohan PKL di Indonesia.
Program percontohan PKL ini adakan agar masyarakat lebih terberdayakan
menjadikan kawasan lebih hidup serta tukang parkirpun terberdayakan
Saya : Program jangka pendek koperasi ini apa?

Bapak Mujahidin : Program jangka pendek adalah menata kawasan ganyang khususnya los terbuka
barat- timur. diharapkan kesiapan kabinet KM ITB untuk membantu

Wednesday, July 7, 2010

Ironi Sebuah Kota episode 1

Judul Foto : Ironi Sebuah Jembatan Penyebrangan
Lokasi : di dekat alun-alun kota Bandung
Tipe Kamera : Kodak C 1013
Deskripsi :
  • Jembatan yang seharusnya menjadi tempat penyeberangan telah beralih fungsi menjadi rumah bagi tunawisma yang meningkat di kota besar. Sungguh ironis sekali mengingat letak jemabtan ini sangat dekat dari pusat pemerintahan kota serta pusat keramaian.


Judul Foto : Panti Karya Yang Terlupakan
Lokasi : Jalan Merdeka di depan BIP
Tipe Kamera : Kodak C1013
Deskripsi :
  • Era tahun 1980 Panti Karya merupakan salah satu bioskop ternama di kota Bandung. Lantai dasar ada bioskop Panti Karya, lantai dua dipakai perkantoran, lantai tiga ada Akademi Akuntansi, pada lantai Panti Karyaempat dan lima ada stasiun radio swasta di mana saya beraktivitas. Sepengetahuan saya, gedung ini adalah milik Yapenka, yang pada periode itu dipimpin oleh Bapak Ir. Santoso, amat terawat, pikabetaheun.
    sumber : http://www.bandungheritage.org/
Judul Foto : Diatas Sebuah Kota
Lokasi : Menara Masjid Raya Bandung, Jalan Alun-alun
Tipe Kamera : Kodak C1013
Deskripsi :
  • Salah satu menara masjid raya Bandung dapat dinaiki dengan membayar infak sebesar Rp. 2000,-. Dari menara ini kita dapat melihat seluruh penjuru kota Bandung. Menara mesjid ini terbuka untuk umum pada hari Sabtu - Minggu sampai pukul 17.00 WIB. Di atas menara terdapat beberapa larangan seperti: dilarang mengotori mesjid(sehingga sepatu atau sandal harus dikresekin), dilarang pacaran (tentu saja mesjidkan rumah Allah SWT), Paling lama diatas menara selama 15 menit

Thursday, May 13, 2010

"Kita dibatasi bukan oleh kemampuan kita, tapi oleh visi kita.”

Jonathan Swift (1667—1745), pengarang dan sastrawan Irlandia

Wednesday, May 12, 2010

"Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan."

Pramoedya Ananta Toer___ Bumi Manusia

Andre Malraux (1901-1976), sejarawan Prancis

Yang membedakan orang sukses dan orang gagal adalah bukan karena yang satu memiliki kemampuan dan ide lebih baik, tapi karena dia berani mempertaruhkan ide, menghitung risiko, dan bertindak cepat.

Thursday, April 29, 2010

Cerita Singkat tentang Gedung "De Driekuer"


Bank BTPN yang dulunya kantor berita Domei
Bangunan karya arsitek Belanda Albert Frederik Aalbers itu dibangun pada akhir dekade 1930. Tujuan pembangunannya untuk kantor sekaligus rumah seorang pengusaha China(menurut http://djawatempodoeloe.multiply.com gedung ini merupakan kediaman Aalbers ) .Pada masa pendudukan Jepang, bangunan itu difungsikan sebagai Kantor Berita Domei. Pada 17 Agustus 1945, Kantor Berita Domei menerima kawat berisi teks proklamasi. Bangunan Drie Kleur menjadi saksi dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan Indonesia di Kota Bandung untuk pertama kalinya. GEDUNG De Drie Kleur (dalam bahasa belanda artinya Tiga Warna kemungkinan warna bendera belanda yaitu merah putih biru ) di sudut Jln. Sultan Agung dengan Jln. Ir. H. Djuanda (Dago) yang kini menjadi kantor Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN).Pada 17 Agustus 1945, Kantor Berita Domei menerima kawat berisi teks proklamasi. Bangunan Drie Kleur menjadi saksi dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan Indonesia di Kota Bandung untuk pertama kalinya. Bangunan ini banyak dipengaruhi oleh aliran Nieuw Bouwen- gaya arsitektur yang berkembang di Hindia Belanda pada akhir tahun 1930-yang memperlihatkan garis-garis stream line. Gaya ini mengutamakan kesederhanan tanpa banyak ornamen dekoratif. Tampak bahwa pengutamaan kesederhanan ini menunjukkan perbedaannya dari gaya art deco, yang menonjolkan unsur dekoratif. Konsep aliran Nieuw Bowen (istilah aliran yang dipakai oleh arsitek Belanda pada akhir 1930an) sangat terasa pada bangunan De DrieKleur yang bergaya bangunan mirip Hotel Savoy Homann. Bangunan Drie Kleur memperlihatkan adanya proses perkembngan gaya Art Deco yang mulai melepaskan unsur-unsur dekoratifnya. Selain itu villa Tiga Warna punya simetri keras tanpa menara. Sebelumnya, bangunan bersejarah ini pernah digunakan sebagai kantor polisi, bahkan pernah juga dijadikan diskotek.

Sumber : http://www.bandungheritage.org/
http://www.pikiranrakyat.com/

Saturday, April 10, 2010

Jam-jam dengan angka Romawi seperti ini IIII

Jam-jam dengan angka Romawi seperti ini IIII

1. Jam Pada Bangunan Bank Mandiri dijalan Asia Afrika




2. Jam Pada Bethel Church di jalan Wastukencana





3. Jam Gadang Pasar Bukittinggi


Jam yang dibangun pada 1926 ini, diarsiteki Yazin dan Sutan Gigi Ameh
ini berdiri megah di pusat Bukittinggi sebagai ikon Sumbar
Sepintas, mungkin tidak ada keanehan pada bangunan jam setinggi 26
meter tersebut. Apalagi jika diperhatikan bentuknya, karena Jam Gadang
hanya berwujud bulat dengan diameter 80 sentimeter, di topang basement
dasar seukuran 13 x 4 meter, ibarat sebuah tugu atau monumen. Oleh
karena ukuran jam yang lain dari kebiasaan ini, maka sangat cocok
dengan sebutan Jam Gadang yang berarti jam besar.

Bahkan tidak ada hal yang aneh ketika melihat angka Romawi di Jam
Gadang. Tapi coba lebih teliti lagi pada angka Romawi keempat.
Terlihat ada sesuatu yang tampaknya menyimpang dari pakem. Mestinya,
menulis angka Romawi empat dengan simbol IV. Tapi di Jam Gadang malah
dibuat menjadi angka satu yang berjajar empat buah (IIII). Penulisan
yang diluar patron angka romawi tersebut hingga saat ini masih
diliputi misteri. Tapi uniknya, keganjilan pada penulisan angka
tersebut malah membuat Jam Gadang menjadi lebih "menantang" dan
menggugah tanda tanya setiap orang yang (kebetulan) mengetahuinya dan
memperhatikannya. Bahkan uniknya lagi, kadang muncul pertanyaan apakah
ini sebuah patron lama dan kuno atau kesalahan serta atau atau yang
lainnya.

Dari beragam informasi ditengah masyarakat, angka empat aneh tersebut
ada yang mengartikan sebagai penunjuk jumlah korban yang menjadi
tumbal ketika pembangunan. Atau ada pula yang mengartikan, empat orang
tukang pekerja bangunan pembuatan Jam Gadang meninggal setelah jam
tersebut selesai. Masuk akal juga, karena jam tersebut diantaranya
dibuat dari bahan semen putih dicampur putih telur. Jika dikaji
apabila terdapat kesalahan membuat angka IV, tentu masih ada
kemungkinan dari deretan daftar misteri. Tapi setidaknya hal ini
tampaknya perlu dikesampingkan. Sebagai jam hadiah dari Ratu Belanda
kepada controleur (sekretaris kota), dan dibuat ahli jam negeri Paman
Sam Amerika, kemungkinan kekeliruan sangat kecil.

Tapi biarkan saja misteri tersebut dengan berbagai kerahasiaannya.
Namun yang patut diketahui lagi, mesin Jam Gadang diyakini juga hanya
ada dua di dunia. Kembarannya tentu saja yang saat ini terpasang di
Big Ben, Inggris. Mesin yang bekerja secara manual tersebut oleh
pembuatnya, Forman (seorang bangsawan terkenal) diberi nama Brixlion.
Sekarang balik lagi ke angka Romawi empat, apakah pembuatan angka
empat yang aneh itu disengaja oleh pembuatnya, juga tidak ada yang
tahu. Tapi yang juga patut dicatat, bahwa Jam Gadang ini peletakan
batu pertamanya dilakukan oleh seorang anak berusia enam tahun, putra
pertama Rook Maker yang menjabat controleur Belanda di Bukittinggi
ketika itu.

Ketika masih dalam masa penjajahan Belanda, bagian puncak Jam Gadang
terpasang dengan megahnya patung seekor ayam jantan. Namun saat
Belanda kalah dan terjadi pergantian kolonialis di Indonesia kepada
Jepang, bagian atas tersebut diganti dengan bentuk klenteng. Lebih
jauh lagi ketika masa kemerdekaan, bagian atas klenteng diturunkan
diganti gaya atap bagonjong rumah adat Minangkabau. Di tengah usia
yang ke 84 tahun, jam yang dibangun dengan biaya 3.000 gulden (saat
itu), saat ini masih berdiri kokoh sebagai ikon pariwisata Sumbar







Alasan penggunaan penulisan angka empat Romawi dengan simbol IIII bukan VI terdapat tiga versi.

  1. Sebuah cerita mengisahkan seorang Clockmaker membuat jam khusus untuk seorang Raja Perancis saat itu yaitu Louis XIV. Saat ditunjukkan jam buatannya tersebut, sang Raja menolak dan meminta agar angka 4 dibuat dalam bentuk IIII dan bukannya IV seperti yang dibuat oleh Clockmaker itu. Walaupun sudah dijelaskan kebenarannya, sang raja tetap bersikeras agar bentuk diganti dengan IIII. Akhirnya Clockmaker menyetujui dan sejak saat itu hampir semua jam menerapkan bentuk IIII daripada IV untuk penunjuk jam 4.
  2. Penjelasan lebih logis adalah berdasarkan dari sisi estetika. Sebuah jam dengan penunjuk angka Romawi akan terdiri dari bentuk I, V dan X yang tersebar. Apabila angka 4 dibuat dengan bentuk IV, akan terjadi 'ketidak-seimbangan' dari sisi estetika antara bagian kiri dial dan kanan dial. Bentuk VIII pada sisi kiri berhadapan dengan bentuk IV pada sisi kanan. Bentuk VIII dirasakan 'lebih berat' daripada bentuk IV, dan agar terjadi keseimbangan maka bentuk IV diganti dengan IIII.
  3. Alasan lain penggunaan IIII dipilih daripada bentuk IV adalah dari sisi pemaknaan. Dalam Bahasa latin penggunaan bentuk IV tidak digunakan karena simbol IV merujuk pada salah satu Dewa orang Romawi yaitu Jupiter yang sering disingkat sebagai JU. Huruf J pada Bahasa Latin ditunjukkan dengan bentuk I sedangkan huruf U ditunjukkan dengan bentuk V, karena itu IV sama dengan makna JU yang berarti Jupiter. Karena itu sangat dihindari penulisan IV di tempat-tempat umum yang dianggap 'tidak terhormat'



Referensi :
http://jamkuno.blogspot.com/2009/08/why-iiii-instead-of-iv.html
Padang Ekspres ONLINE, Kamis, 13-Desember-2007