Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Thursday, August 11, 2011

Lost in Yogyakarta[Part I]: Say Hello Yogyakarta



Pulang ke kotamu, ada setagkup haru dalam rindu 

Masih seperti dulu 
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna 
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu 
Nikmati bersama suasana Jogja [Yogyakarta__Kla Project]

3 Juni 2011
Secara random saya, Dhika, dan Mahdi memutuskan untuk liburan ke kota Yogyakarta setelah rencana awal liburan sambil survey ke penangkaran penyu di pantai Pangumbahan Ujung Genteng gagal total.

Sekitar pukul 13.00 setelah sholat jumat, saya dan Dhika pergi ke Stasiun Bandung mencari tiket kereta ekonomi yang berujung dengan tidak ada tiket kereta api kelas ekonomi yang di jual untuk keberangkatan malam. Informasi dari loket penjualan tiket kereta yang ada di Stasiun Bandung, untuk ke berangkatan malam biasanya dijual di Stasiun Kiaracondong. Dengan langkah cepat, saya dan Dhika bergegas ke Stasiun Kiaracondong untuk membeli tiket kereta ekonomi. Namun, dikarenakan alasan tidak tahu angkot menuju Stasiun Kiaraconodng dari Stasiun Bandung dan menghemat waktu, kita menaiki kereta api jurusan Bandung-Cicalengka (sayangnya bukti tiketnya diambil lagi oleh pihak stasiun Kiaracondong).

Setibanya di stasiun Kiaracondong, kami langsung membeli tiket kereta api ekonomi “Kahuripan” dengan rute Padalarang (Jawa Barat) – Kediri (Jawa Timur) tanpa tempat duduk seharga Rp. 24.000 pertiket. Yang merupakan pertanda selama perjalanan kemungkinan besar kami akan berdiri non stop. Sedikit menghibur dan membisikkan dalam hati ”Palingan, entar ada yang berhenti dijalan trus tempat duduknya bisa diambil”
******
Setelah sholat Magrib, saya, Dhika Permana Amri dan Mahdi badari janjian ketemu di depan atm gallery Pasar Simpang Dago. Lalu menaikin angkot (Riung-Dago) menuju stasiun Kiaracondong. Stasiun Kiaracondong merupakan stasiun besar kedua di Kota Bandung setelah stasiun Bandung. Stasiun ini terletak di batas antara Kelurahan Babakansari dan Kelurahan Kebunjayanti, dan hanya melayani keberangkatan kereta api kelas ekonomi
Kereta api “Kahuripan”, itulah nama kereta yang kami naiki dengan rute perjalanan Padalarang, Kiaracondong, Rancaekek,Cicalengka, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Sidareja, Maos, Kroya, Gombong, Kebumen, Kutoarjo, Wates, Lempuyangan, Kalten, Solojebres, Sragen, Walikukun, Madiun, Ngajuk, Kertosono, Kediri. Kereta api kahuripan terdiri atas 7 gerbong Kereta Kelas Ekonomi + 1 gerbong Kereta Makan dengan kode seri lokomotif CC. 201. Jumlah tempat duduk yang disediakan kereta ini sekitar untuk 742 orang dan toleransi kapasitas angkut 1.113 orang.
Nama Kahuripan sendiri berasal dari nama sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1009 sebagai kelanjutan Kerajaan Medang yang runtuh tahun 1006. Dan merupakan awal mula bedirinya kerajaan Kediri. Kerajaan Kahuripan berakhir dengan masalah perebutan tahta kerajaan. Ketika calon raja yang sebenarnya, Sanggramawijaya Tunggadewi memeutuskan menjadi pertapa. Akhir November 1042, Airlangga membagai kerajaan menjadi dua bagian. Bagian barat bernama Kadiri dengan ibukota Daha yang dipimpin oleh putranya yang bernama Sri Samarawijaya dan bagian timur bernama Janggala beribukotaka Kahuripan yang diserahkan kepada Mapanji Garasakan. Itulah akhir dari kerajaan Kahuripan yang melahirkan dua kerajaan baru.
Kereta api “ Kahuripan” termasuk kereta api yang paling banyak mengalami perubahan rute. Pada awalnya, Kereta Api ini melayani rute Kediri-Bandung-Pasar Senen, namun sejak 26 Juli 1995 rutenya dipotong sehingga hanya melayani rute Kediri-Bandung. Seiring dengan beralihnya pelayanan KA ekonomi dari Bandung ke Kiaracondong, kemudian rutenya berubah lagi menjadi Kediri-Kiaracondong. Kemudian rute KA ekonomi “Kahuripan” diperpanjang sedikit ke arah barat menjadi Kediri-Padalarang.




Thursday, July 14, 2011

Ada Buaya di PVJ

Bandung, 21 Juni 2011

Hari ini saya dan teman saya, Dida pergi ke PVJ (Paris Van Java). Paris Van Java Resort Lifestyle Place atau yang lebih dikenal dengan nama Paris Van Java Mall adalah sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di jalan Sukajadi, no. 137 - 139. Nuansa open air yang dilengkapi pemandangan burung merpati hias berterbangan bebas serta konsep bangunan bergaya arsitektur Eropa menjadi daya tarik sendiri bagi mal yang berdiri pada Juni 2006 ini disamping beberapa show yang diadakan pihak pengelola untuk menarik perhatian pengunjung. Sebenarnya, kali ini saya sendiri tidak memiliki keperluan khusus kesana, hanya menemani Dida yang sedang mencari sepatu untuk KP. Namun ada hal yang membuat saya kepicut dan ingin pergi kesana, yaitu adanya "Crocodille Fishing" (Memancing buaya).


Apa itu "Crocodille Fishing"? Crocodille Fishing merupakan salah satu bentuk promosi pariwisata yang berada di Jawa Barat. Pada stand khusus yang telah disediakan(didekat kolam), terpajang banner-banner yang menjelaskan wisata-wisata apa yang dapat dikunjungi di Jawa Barat seperti kawah putih, ranca upas, dan blanakan. selain itu ada brosur-brosur yang dibagikan pada pengunjung stand berisikan penjelasan ringkas serta peta perjalanan menuju tempat
wisata. Untuk membuat stand tersebut lebih menarik, disiapkan beberapa wahana. Di stand kali ini, terdapat wahana Crocodille Fishing dan Foto bersama bayi buaya muara.

Untuk mencoba wahana Crocodille Fishing, pengunjung harus membayar IDR 25000. Namun ada beberapa paket yang ditawarkan. Intinya sama yaitu memberi makan buaya dengan cara mengikat secuil daging pada tali yang diikatkan sebatang kayu lalu dilemparkan ke dalam kolam yang berisi belasan buaya. Lalu buaya tersebut akan memakan umpan dan si pawang buaya menarik kayu tersebut seolah-olah seperti sedang memancing buaya (saya tidak tahu apakah ini termasuk animal abuse atau tidak).


Kali ini saya hanya mencoba wahana berfoto bersama bayi buaya. Panjang bayi buayanya sekitar 80-100 cm dengan mulut tertutup. Sepertinya buaya sudah sangat lelah melayani pengunjung yang ingin berfoto dengannya. Untuk berfoto dengan bayi buaya setiap pengujung harus membayar IDR 10000.


Buaya yang dipamerkan termasuk jenis buaya muara yang berasal dari penangkaran di Blanakan

Buaya merupakan reptil air yang memiliki ukuran tubuh yang besar. Selain itu, buaya juga termasuk hewan purba yang sedikit berubah karena evolusi semenjak zaman dinosaurus.. Secara ilmiah, buaya meliputi seluruh spesies anggota suku Crocodylidae, termasuk pula buaya ikan (Tomistoma schlegelii). Kebanyakkan buaya hidup di perairan tawar seperti sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya, namun ada juga yang hidup di air payau seperti buaya muara. Makanan utama buaya adalah hewan-hewan bertulang belakang seperti bangsa ikan, reptil dan mamalia, kadang-kadang juga memangsa moluska dan krustasea bergantung pada spesiesnya.

Karena persebarannya hampir merata diseluruh wilayah Indonesia, buaya memiliki beberapa jenis nama daerah. Misalnya buhaya (Sd.); buhaya (bjn); baya atau bajul (Jw.; bicokok (Btw.), bekatak, atau buaya katak untuk menyebut buaya bertubuh kecil gemuk; senyulong, buaya jolong-jolong (Mly.), atau buaya julung-julung untuk menyebut buaya ikan; buaya pandan, yakni buaya yang berwarna kehijauan; buaya tembaga, buaya yang berwarna kuning kecoklatan; dan lain-lain. Namun dalam bahasa Inggris-nya buaya dikenal dengan sebutan crocodile. Crocodile berasal dari penyebutan orang Yunani ketika melihat buaya yang berjemur yang di tepian Sungai Nil yag berbatu-batu, "krokodilos yag berarti cacing bebatuan"; (kroko, yang berarti ‘batu kerikil’, dan deilos yang berarti ‘cacing’ atau ‘orang’).

Buaya di Indonesia

Sejauh ini diketahui sekitar tujuh spesies (atau subspesies) buaya yang ditemukan di Indonesia, yakni:
  1. Buaya Mindoro atau buaya Filipina (Crocodylus mindorensis)Keberadaan buaya Mindoro di Indonesia (yakni di sekiatar Sulawesi timur dan tenggara) baru dilaporkan semenjak 1996
  2. Buaya Irian (C. novaeguineae)Habitat buaya Irian terdapat di sebelah utara pegunungan tengah
  3. Buaya muara (C. porosus)
  4. Buaya Kalimantan (C. raninus)Buaya Kalimantan (menurut informasi yang jenis buaya ini hidup di Kalimantan Barat dan Selatan). Status keberadaannya masih dalam perdebatan karena buaya kalimatan ini memiliki bentuk dan habitatnya sama dengan buaya air tawar, hanya beberapa ciri yang membedakannya.
  5. Buaya air tawar atau buaya Siam (C. siamensis)
  6. Buaya Sahul (Crocodylus sp.nov.)Satatu keberadaannya selama ini dianggap identik dengan buaya Irian namun buaya Sahul menyebar terbatas disebelah selatan Papua
  7. Buaya senyulong (Tomistoma schlegelii)

Blanakan
Blanakan berada di wilayah administrasi desa/ kelurahan Blanakan Ciasem-Pamanukan Kabupaten Bandung. Sejarah blanakan sendiri berasal dari historis keluarga Buyut Perahu. Nama Blanakan berasal dari kata Belah Sanak (Bahasa Indramayu). Belah berarti pecah/ pisah, sanak berarti duhur/saudara atau keluarga.
Indramayu adalah salah satu nama tempat yang tidak jauh letaknya dangan kecamatan Blanakan termasuk pantai Jawa bagian utara. Dari tempat asal Ki Buyut Perahu tinggal dahulu kemudian berlayar bersama istri dan adiknya untuk mencari nafkah, dalam perjalanannya mereka singgah di salah satu tempat yang sekarang bernama Blanakan
Pada suatu hari Ki Buyut Perahu bermaksud mencari mencek(kijang). Pagi hari sekali sebelum berangkat,Ki Buyut berpesan pada istri dan adiknya agar tidak ikut berburu. Setelah seharian mencari kijang kemudian Ki Buyut pulang dengan membawa hasil, sesampai di rumah langsung membuka rumahnya, ternyata Ki Buyut mendapati istri dan adiknya. Hingga akhirnya Ki Buyut memikah lagi dengan seorang istri asal Blanakan (sekarang).
Ki Buyut Perahu berterus terang kepada istrinya yang baru tentang aib ang menimpanya, dan berkata "Saya lebih baik belah sanak dari pada "hidup malu" sehingga dari kata-kata itu kemudian mereka menyebutnya kampung belah sanak. Oleh anak Ki Buyut Perahu, kampung tersebut diubah menjadi Blanakan.

Penangkaran Buaya
Penagkaran Buaya Blanakan terletak pada ketinggian 0-1 meter diatas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata 28 C Jenis Buaya yang ditangkarkan disini adalah buaya muara. Buaya muara atau yang lebih dikenal dengan buaya bekatak (Crocodylus porosus) merupakan jenis buaya yang memiliki habitat hidup pada sungai-sungai yang berdekatan dengan laut (muara). Ditempat tersebut, memiliki karakteristik air berupa perpaduan air asin dan air tawar (air payau). Daerah penyebarannya ditemukan di seluruh perairan Indonesia, Papua Nugini, Australia Utara, Kepulauan Pasifik, Brunei, Myanmar, Kamboja, Philippina, Burma, India, Srilanka, Cina hingga Semenanjung Malaya. Buaya Muara terkenal sebagai jenis buaya terganas di dunia.
Cara berburu buaya muara termasuk unik, yaitu cukup dengan mengambil posisi diam bagai patung yang tak berdaya sebagai salah satu strategi kamuflase untuk memperoleh mangsanya. Biasanya mangsa akan terpedaya dan sama sekali tidak menyadari bahwa ia-lah yang justru mendekati mulut buaya. Kemudian tanpa disangka-sangka ia mampu bergerak secepat kedipan mata menyambar mangsanya. Yang paling berbahaya dari Buaya Muara (Crocodylus porosus) adalah gigitannya yang sangat kokoh, sehingga dapat meremukkan tulang dari mangsanya. Gigi-gigi Buaya Muara (Crocodylus porosus) umumnya adalah gigi taring yang menyebar merata di seluruh permukaan dalam mulutnya. Dengan rahang yang sangat kuat serta ditunjang dengan deretan gigi yang menyerupai gergaji, maka jarang ada mangsa yang dapat lolos dari gigitannya.
Buaya muara ini juga mampu melompat keluar dari air untuk menyerang mangsanya. Bahkan bilamana kedalaman air melebihi panjang tubuhnya, buaya muara mampu melompat serta menerkam secara vertikal mencapai ketinggian yang sama dengan panjang tubuhnya.
Di habitat aslinya, hewan reptilia penyendiri ini juga hidup secara tetitori dengan membagi-bagi daerahnya. Jika salah satu buaya melanggar batas teritorialnya maka akan terjadi penyerangan. Buaya yang tadinya hanya berdiam, bisa berubah ganas ketika mengadakan perlawanan. Hewan ini dengan cepat menjadi lincah bergerak dan selalu siap menerjang.
Perkembangbiakan Buaya Muara (Crocodylus porosus) sangat sering terjadi pada musim hujan. Pada musim bertelur dibulan November sampai dengan bulan April seekor induk betina mampu menghasilkan 30-60 butir telur dan akan menetas dalam tempo tiga bulan. Suhu yang optimum bagi telur untuk menetas adalah sebesar 31,6 derajat celcius. Disaat-saat seperti ini induk betina akan berubah menjadi sangat buas. Induk betina biasanya menyimpan telur-telurnya dengan membenamkannya di tanah atau di bawah seresah daun. Dan kemudian induk tersebut menunggu dari jarak beberapa meter.

Walaupun Buaya Buaya Muara (Crocodylus porosus) cukup mudah bertelur, namun tidak mudah bagi telur-telur tersebut untuk menetas. Penyebabnya selain karena faktor tanah yang tidak sesuai, perubahan suhu dan iklim, juga karena dimakan predator lain dan diburu manusia. Curah hujan yang tinggi akan mendukung kondisi Buaya Muara (Crocodylus porosus) untuk dapat berkembang biak lebih cepat. Sehingga upaya-upaya untuk mempertahankan habitat buaya yang mendukung bagi siklus hidupnya mulak diperlukan.
Saat menetas, bayi Buaya Muara (Crocodylus porosus) hanya berukuran 20-30 cm saja. Buaya Muara (Crocodylus porosus) mencapai ukuran lebih dari satu meter selama lebih kurang dua tahun. Masa dewasa dari satwa tersebut adalah setelah ia berumur lebih dari 12 tahun.
Pelepasan bibit pertama dipenangkaran Blanakan ini dilakukan pada bula Desember 1988 sebanyak 62 ekor yang didatangkan dari Kalimantan Barat, Palembang, dan kupang yang berusia antara 3-12 bulan. Tidak hanya dapat mengamati buaya, dipenangkaran buaya Blanakan ini dapat juga dilakukan bird watching, pengamatan satwa liar (ular sawah, burung Kuntul, babi hutan, dan kucing hutan) dan flora (rumput teki, rumput gajah, hamtuang, pasiran, bakau api-api, dan kaneka), dan hutan mangrove.
Pada bulan-bulan tertentu (biasanya Oktober-November), para nelayan dan masyakarat setempat mengadakan upacara tradisional dengan membuang kepala kerbau ke tengah laut setiap tahunnya yang dikenal dengan Pesta Laut.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Paris_Van_Java_Mall
http://id.wikipedia.org/wiki/Buaya_muara
http://id.wikipedia.org/wiki/Buaya
http://natuna.org/buaya-muara.html
brosur perhutani ""wana wisata Blanakan"

Monday, August 9, 2010

Kisah Perjalanan Ke Karst Citatah


Minggu,6 Juni 2010

Kali ini saya dan penggiat aleut bertandang ke pegunungan kapur daerah Padalarang yang dikenal dengan sebutan karts citatah. Perjalanan dimulai dari pangkalan Damri di depan situ Ciburuy.
1. Situ Ciburuy.
Pada awalnya, Situ Ciburuy merupakan dua buah sungai kecil yang ujungnya bertemu di Desa Ciburuy. Akhirnya, tahun 1918, lokasi pertemuan kedua sungai itu dibendung menjadi sebuah telaga dan airnya diatur untuk mengairi sawah-sawah desa. Lama kelamaan, bendungan ini airnya makin tinggi dan menggenangi wilayah seluas 14.76 ha. Tanah tertinggi di tengah-tengah danau tidak tergenang, yang membentuk sebuah pulau mungil. Mayarakat setempat lantas memberinya nama Situ Ciburuy yang diambil dari desa tempat pertemuan dua sunagi kecil tersebut.

Awal 1942, seorang Belanda bernama Tuan Bempi mengantongi hak memelihara ikan dari pemerintah Hindia Belanda di danau itu. Ikan-ikannya berkembang pesat. Untunglah Tuan Bempi tidak kikir. Ia bahkan dikenal sebagai dermawan yang sering membantu warga desa. Karena kesibukannya dibidang lain, pengelolaan sehari-harian danau ia percayakan kepada Romli, warga Desa Ciburuy.

Sayang, tahun itu Jepang masuk RI. Semua orang Belanda ditawan dan dibawa ke Jakarta, termasuk Tuan Bempi. Sejak itu, keberadaan Tuan Bempi tidak diketahui lagi.
Sepeninggal beliau, Romli-lah yang mengurus Situ Ciburuy. Karena tak ada pemiliknya lagi, ia lantas mempersilahkan kepada siapa saja untuk mengambil ikan di tempat itu.
Meski tak lagi ada yang memiliki, Romli tetap menjaga danau itu dengan setia. Suasana danau seakan menyatu dengan dirinya. Keadaan itu berlangsung hingga Romli naik haji dan meninggal dunia tahun 1994. Romli pun diberi gelar sebagai kuncen Situ Ciburuy. H Abdul Solihin (70), keponakan H Romli, menceritakan bahwa semasa hidupnya, H Romli sering didatangi Tuan Bempi dalam tidurnya.
Kondisi Situ Ciburuy semakin dangkal meski debit air tergantung curah hujan.Perjalananpun dilanjutkan setelah membeli perbekalan yang dibutuhkan. Jalan yang disusuri untuk mencapai gunung lawu melewati permukiman warga. Disalah satu rumah warga, dapat disaksikan lele dengan ukuran jumbo.
Setelah melswati pemukiman warga, saya dan para penggiat aleutpun melewati pabrik-pabrik yang bahan batunya berasal dari gamping (batu kapur).


situ ciburuy

Para lele jumbo hehehehe


2. Kawasan Kart Citatah
Istilah karst yang dikenal di Indonesia sebenarnya diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia. Istilah aslinya adalah ‘krst / krast' yang merupakan nama suatu kawasan di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat kota Trieste . Karst merupakan topografi unik yang terbentuk akibat adanya aliran air pada bebatuan karbonat (biasanya berupa kapur, dolomit atau marmer). Proses pembentukan Karst melibatkan apa yang disebut sebagai "karbon dioksida ke bawah”. Hujan turun melalui atmosfer dengan membawa CO2 yang terlarut dalam tetesan. Ketika hujan sampai di tanah, ia terperkolasi melalui tanah dan menggunakan lebih banyak CO2 untuk membentuk larutan lemah dari asam karbonat: CO2 + H2O = H2CO3. Infiltrasi air secara natural membuat retakan dan lubang pada batuan. Dalam periode waktu yang lama, dengan suplai CO2 terus-menerus - yang kaya air, lapisan batuan karbonat mulai melarut.
Kawasan karst Citatah termasuk warisan tertua di Pulau Jawa. Terbentang sepanjang enam kilometer dari Tagog Apu hingga selatan Rajamandala, jajaran gunung batu ini terbentuk pada zaman Miosen, 20-30 juta tahun silam (KRCB, 2006). Kawasan Karst Citatah ini meliputi: Goa Pawon, Pasir Pawon, Pasir Masigit, Pasir bancana, Karangpanganten, Gunung Manik, Pasir Pabeasan dan Gunung Hawu. Didaerah karst Citatah juga ditemukan situs purbakala berupa alat-alat batu, gerabah, bongkah andesit sebagai alat tumbuk dan tulang-tulang binatang (gigi, kuku, rahang) di lingkungan Gua Pawon merupakan temuan arkeologi spektakular di Jawa Barat. Lokasi yang dikunjungi oleh penggiat aleut di kawasan karst citatah ini adalah
- Brigde stone (Gunung Hawu) harta alam yang terpendam dan terancam
Lengkungan yang secara keseluruhan merupakan lubang di dinding batu gamping tersebut memiliki ukuran lebarebih kurang 30 m, tinggi 70 m, menggantung di atas dinding setinggi 30 m dari jalan tambang di bawahnya.Lengkungan alami Gunung Hawu di Citatah terbentuk dari batu gamping dan prosesnya lebih mirip pembentukan Jembatan Alami Virginia Proses karstifikasi yang merupakan proses pelarutan senyawa karbonat sebagai bahan utama batu gamping adalah penyebab terbentuknya lengkungan alami Gunung Hawu. Sangat jelas sekali bahwa lubang yang terbentuk dikontrol oleh retakan yang memanjang hampir utara-selatan.Sebuah lubang vertikal yang sangat dalam diduga merupakan proses awal terbentuknya lengkugnan ini. Lubang vertikal ini adalah gejala khas di daerah karst batu gamping hasil dari runtuhan atap gua atau collapse sinkhole. Proses berikutnya diduga merupakan proses pelubangan secara karstifikasi ke arah samping searah kemiringan lapisan batu gamping yang sangat curam ke arah selat Jika di Utah lengkungan-lengkungan alaminya dilindungi sebagai monumen nasional, di Citatah fenomena alam yang di Indonesia sekalipun sangat langka ini berada sangat dekat sekali dengan wilayah penggalian batu gamping (kapur). Kira-kira 100 m dari fenomena langka ini, truk-truk tambang hilir mudik mengangkut bongkah-bongkah batu yang dibongkar dari lereng-lerengnya. Bahkan tepat di batas utara lengkungan alami ini terdapat sisa-sisa penggergajian batu gamping untuk pembuatan marmer. Sunguh mengenaskan nasibnya !


Brigde Stone padalarang... Yang tidak kalah dengan yang ada di Taman Nasional Yosemite

T 125

T125 maksudnya adalah tebing dengan ketinggian 125 m.

- Stone Garden dan Gunung Masigit
Pada Stone Garden terdapat gejala mikro-karst yang membentuk bongkah-bongkah menonjol dari permukaan tanah yang menjadikan puncak bukit. Hal ini juga terjadi diatas Goa Pawon. Proses pelarutan yang berjalan pada retakan-retakan batugamping menyembulkan sisa-sisa pelarutannya berupa bongkah batu gamping yang tersusun dengan tidak teratur dan tinggi yang berbeda-beda dan berelief kasar. Sekarang Stone Garden dimanfaatkan sebagai ladang oleh penduduk setempat. Selain itu di stone garden ini juga terdapat makam.(Untuk ini saya kurang tahu banyak). Dari stone Garden ini juga dapat dilihat gunung masigit yang telah tergerus hingga tinggal setengahnya oleh penambangan batu gamping. Kondisi yang sangat menyedihkan.

- Goa Pawon Tempat tinggalnya Ki Sunda

Pawon memiliki arti dapur menurut legenda orang Sunda (legenda Sangkuriang), gua ini dulunya adalah dapur Dayang Sumbi. Kenyataannya menurut para ahli tempat ini memang difungsikan sebagai dapur oleh manusia prasejarah dengan ditemukannya fosil sisa-sisa makanan dan biji buah-buahan. Gua Pawon sebenarnya merupakan gua yang tidak mempunyai lorong-lorong yang panjang dan gelap, tapi hanya terdiri dari banyak ruang (10 ruang besar) yang merupakan ceruk di dinding bukit.
Di bagian kiri atas gua ini, ada sebuah spot yang dinamakan Sumur Bandung. Sumur Bandung ini sebenarnya bukanlah sebuah sumur, lebih seperti sebuah kolam kecil yang cukup dalam yang tentu aja berisi air. Konon katanya biasanya orang-orang yang datang kesana itu percaya kalo air dari sumur itu sakti, ya bisa bawa tuah katanya. Menurut salah seorang yang ditemui disana, air sumur itu air sumur itu selalu terisi walaupun musim kemarau sekalipun.Sumur Bandung ini tempatnya cukup tinggi dan jalan kesana total harus memanjat dinding batu yang terjal dan licin. Sumur tersebut sebenarnya tidak terlalu besar. Airnya bening dan dingin(menurut prediksi saya karena berda didalam gua). Bagai yang percaya bahwa air di sana membawa tuah, bisa membasih muka, tangan atau kaki dengan air itu (katanya bisa awet muda).

Sumur Bandung

Ki Sunda (Orang yang pernah mendiami daratan sunda
Pada salah satu ruang pada goa pawon, terdapat replika kerangka manusia purba yang pernah menghuni daerah Bandung dan sekitarnya. Masyarakat setempat menyebutnya Ki Sunda tapi saya tak tahu kenapa demikian (?). Namun kondisi replika kerangka cukup menyedihkan karena sudah berlumut. Posisi dari kerangka ini dalam keadaaan menekuk. Dari yang saya ketahui, posisi itu adalah posisi yang sama dengan bayi saat berada didalam rahim ibu. Dan arah hadapnya menunjukkan sesuatu tempat yang dianggap keramat seperti gunung atau laut. (Menurut interpretasi saya, menghadap kearah gunung Sunda pada masa itu). Selain itu, biasanya terdapat bekal kubur (Kalau tidak salah sebagai bekal untuk melanjutkan kehidupan di akhirat ) seperti gerabah, perhiasan yang menyertai kerangka.


Perjalanan berlanjut ke jendela pengintaian. Jendela pengintaian ini pada masa itu berfungsi sebagai tempat mengintai buruan. Di dekat jendela pengintaian terdapat gua. Kata Sri, biasanya digunakan untuk bersemedi bagi penganut kepercayaan. Tapi menurut saya pada zaman itu, mungkin itu sebagai jalan keluar si manusia pawonnya untuk berburu.
Secara keseluruhan keadaan goa pawon sangat menyedihkan, terdapat banyak coretan cat pilox disana sini



sumber : http://ekorisanto.blogspot.com/ (menengok pesona situ ciburuy)
http://portal.sabhawana.com/
http://chezpiere53.wordpress.com/
http://www.bplhdjabar.go.id/
http://www.esdm.go.id/berita/umum/37-umum/2729-mengenal-museum-kars-7-manusia-pawon-di-kawasan-kars-rajamandala-bandung-bagian-barat.html

Tuesday, July 20, 2010

Bosscha, Perjalanan Mengapai Mimpi


Bosscha adalah impian setiap anak yang pernah menyaksikan film Petualangan Sherina termasuk saya. Untuk mewujudkan impian itu, maka Sabtu 25 Oktober 2008 saya dan kelima temannya lainnya mengadakan kunjungan ke Bosscha. Perjalanan itu kami mulai dari gerbang utara ITB yang penuh sesak. Kebetulan hari kunjungan kami itu bertepatan dengan hari wisuda. Dari gerbang tersebut kami menaiki angkot Kelapa- Ledeng. Akan tetapi, untuk mencapai Lembang tidak cukup hanya menaiki satu angkot saja. Kami harun turun dan berganti angkot St Hall- Lembang dan melewati dua universitas yang cukup terkenal di Bandung yaitu UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) dan Universitas Pasundan tepat kakak sepupu saya bersekolah.

Memasuki daerah Lembang, udara dingin menyambut kehadiran kami. Walaupun semua kaca angkot telah tertutup rapat dan kami memakai jaket, tapi kami masih tetap kedinginan. Itu tidak mematahkan semangat kami untuk pergi ke Bosscha. Di persimpangan supir angkot menurunkan kami. Menurut informasinya, kami harus melanjutkan perjalanan kami mendaki bukit. Didepan gerbang pertama sekawanan tukang ojek berkumpul dan siap mengantarkan kami menuju Bosscha. Namun, kami memilih untuk berjalan kaki.

Ini perjalanan yang cukup melelahkan karena jarak dari pintu gerbang pertama ke kawasan observatorium adalah 800 m. Pengunjung dapat berjalan kaki (mendaki) ke observatorium yang dapat ditempuh dalam waktu 15-20 menit. Kelelahan itu dapat terobati karena dari sana kami dapat melihat pemandangan daerah Lembang yang indah.

Obsevatorium Bosscha (dahulu dikenal sebagai Bosscha Sterrewacht) adalah salah satu observatorium penting di belahan bumi Selatan. Observatorium Bosscha dibangun oleh NISV (Nedelandsch-Indiesche Sterrenkundige Vereeniging) atau Perhimpunan Bintang Hindia-Belanda. Pembangunan observatorium ini berlangsung tahun 1923-1928. Nama Observatorium Bosscha ini diambil dari nama sponsor utamanya yaitu Karel Albert Rudolf Bosscha (1865-1928), seorang tuan tanah yang memiliki perkebunan teh di daerah Malabar. Tahun 1928, teleskop refraktor Ganda Zeiss datang dan mulai menghuni Bosscha. Teleskop Zeiss adalah teleskop terbesar di obsevatorium ini dn merupakan salah satu seting saat proses syuting Petualangan Sherina. Teleskop buatan Jerman ini masih bias menjalan fungsinya dengan baik karena dirawat dan dijaga dengan baik. Teleskop Zeiss memang diperliharkan kepada khaylak ramai namun bagi yang tidak berkepentingan dilarang mendekatinya. Selain itu kata Dias salah satu mahasiswa ITB semester tujuh mengatakan untuk perbaikannya observatorium memiliki bengkel tersendiri mengingat pabrik yang membuat teleskop Zeiss tidak lagi memproduksi onderdil-onderdilnya. Pada tahun 1951, Observatorium Bosscha diserahkan kepada FMIPA UI. Dengan berdirinya ITB pada tahun 1959, observatorium ini menjadi bagian dari ITB.

Observatorium Bosscha terletak di Lembang, sekitar 15 km ke arah Utara Bandung dengan koordinat geografis 107° 36' Bujur Timur dan 6° 49' Lintang Selatan. Koordinat ini juga mempengaruhi panjang tiang penyangga teleskop Zeiss yang mana tiang di sebelah Utara lebih panjang dari tiang di sebelah Selatannya. Lokasinya berada pada ketinggian 1310 m dari permukaan laut, atau pada ketinggian 630 m dari plato Bandung.

Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II . Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.

Observatorium ini dilengkapi dengan teleskop berbagai ukuran dan jenis Masing-masing teleskop memiliki sasaran objek pengamatan yang berbeda-beda. Ada 5 teleskop yang aktif untuk penelitian astronomi.

Kelima teleskop tersebut adalah:

T1. Teleskop refraktor Ganda Zeiss

Teleskop ini biasa digunakan untuk mengamati bintang ganda visual, mengukur fotometri gerhana bintang, mengamati citra kawah bulan, mengamati planet, mengamati oposisi planet Mars,Saturnus, Jupiter, dan untuk mengamati citra detail komet terang serta benda langit lainnya. Teleskop ini mempunyai 2 lensa objektif dengan diameter masing-masing lensa 60 cm, dengan titik api atau fokusnya adalah 10,7 meter.

2. tTeleskop Schmidt Bima Sakti

Teleskop ini biasa digunakan untuk mempelajari struktur galaksi Bima Sakti, mempelajari spektrum bintang, mengamati asteroid, supernova, Nova untuk ditentukan terang dan komposisi kimiawinya, dan untuk memotret objek langit. Diameter lensa 71,12 cm. Diameter lensa koreksi biconcaf-bicofex 50 cm. Titik api/fokus 2,5 meter. Juga dilengkapi dengan prisma pembias dengan sudut prima 6,10, untuk memperoleh spektrum bintang. Dispersi prisma ini pada H-gamma 312A tiap malam. Alat bantu extra-telescope adalah Wedge Sensitometer, untuk menera kehitaman skala terang bintang , dan alat perekam film

3. tTeleskop Refraktor Bamberg

Teleskop ini biasa digunakan untuk menera terang bintang, menentukan skala jarak, mengukur fotometri, gerhana bintang, mengamati citra kawah bulan, pengamatan matahari, dan untuk mengamati benda langit lainnya. Dilengkapi dengan fotoelektrik-fotometer untuk mendapatkan skala terang bintang dari intensitas cahaya listrik yang di timbulkan. Diameter lensa 37 cm. Titik api ata

4. tTeleskop Cassegrain GOTO

Dengan teleskop ini, objek dapat langsung diamati dengan memasukkan data posisi objek tersebut. Kemudian data hasil pengamatan akan dimasukkan ke media penyimpanan data secara langsung. Teropong ini juga dapat digunakan untuk mengukur kuat cahaya bintang serta pengamatan spektrum bintang. Dilengakapi dengan spektograf dan fotoelektrik-fotometer.

5. tTeleskop refraktor Unitron

Teleskop ini biasa digunakan untuk melakukan pengamatan hilal, pengamatan pengamatan gerhana dan gerhana matahari, dan pemotretan bintik matahari serta pengamatan benda-benda langit lain. Dengan diameter lensa 13 cm, dan fokus 87 cm

Observatorium yang dipimpin oleh Bapak Taufik Hidayat ini mengalami masalah yang cukup berat yaitu polusi cahaya yang diakibatkan oleh perkembangan pemukiman di daerah Lembang dan kawasan Bandung Utara yang tumbuh laju pesat sehingga banyak daerah atau kawasan yang dahulunya rimbun ataupun berupa hutan-hutan kecil dan area pepohonan tertutup menjadi area pemukiman, vila ataupun daerah pertanian yang bersifat komersial besar-besaran. Akibatnya banyak intensitas cahaya dari kawasan pemukiman yang menyebabkan terganggunya penelitian atau kegiatan peneropongan yang seharusnya membutuhkan intensitas cahaya lingkungan yang minimal. Sementara itu, kurang tegasnya dinas-dinas terkait seperti pertanahan, agraria dan pemukiman dikatakan cukup memberikan andil dalam hal ini. Dengan demikian observatorium yang pernah dikatakan sebagai observatorium satu-satunya di kawasan khatulistiwa ini menjadi terancam keberadaannya.

Setelah melihat dan mendengar penjelasan mengenai Teleskop Zeiss, teleskop tertua yang ada di observatorium ini serta sejarah singkatnya, rombongan kami dan rombongan Perhimpunan Gereja Indonesia yang kebetulan mengadakan lawatan ke Bosscha disuguhi dengan penjelas-penjelasan umum tentang astronomi yang bentuk film documenter serta adanya sesi Tanya jawab.

Menghabiskan waktu dua jam untuk mengunjungi observatorium bagi orang yang mencintai ilmu perbintangan adalah waktu yang singkat. Apalagi belum sempat untuk mencoba teleskop refraktor Unitron dan teleskop Schmidt Bima Sakti yang dapat dicoba pada saat kunjungan malam belumlah cukup. Maka kami berencana untuk kembali lagi tahun depan. Karena observatorium membuka kunjungan malam untuk umum mulai bulan April hingga Agustus disamping untuk penelitian yang dilakukan. Kunjungan tersebut terbatas hanya tiga kali pengamatan dalam sebulan sehingga baginya berminat harus mendaftar sesegera mungkin.

Pulang dari Bosscha kami makan disalah satu warung yang menjual berbagai jenis sate termasuk sate kelinci. Dan yang lebih aneh lagi mie rebus juga memakai daging kelinci. Lucu ya….

Memang sepanjang perjalanan dari Bandung ke Lembang kita dapat melihat di kiri-kanan jalan orang menjual kelinci mulai kelinci untuk dipelihara hingga kelinci yang dijadikan makanan. Akhirnya kami harus meninggalkan hijaunya pepohonan dan segarnya udara Lembang untuk kembali beraktivitas di Bandung.

Wednesday, July 7, 2010

Ironi Sebuah Kota episode 1

Judul Foto : Ironi Sebuah Jembatan Penyebrangan
Lokasi : di dekat alun-alun kota Bandung
Tipe Kamera : Kodak C 1013
Deskripsi :
  • Jembatan yang seharusnya menjadi tempat penyeberangan telah beralih fungsi menjadi rumah bagi tunawisma yang meningkat di kota besar. Sungguh ironis sekali mengingat letak jemabtan ini sangat dekat dari pusat pemerintahan kota serta pusat keramaian.


Judul Foto : Panti Karya Yang Terlupakan
Lokasi : Jalan Merdeka di depan BIP
Tipe Kamera : Kodak C1013
Deskripsi :
  • Era tahun 1980 Panti Karya merupakan salah satu bioskop ternama di kota Bandung. Lantai dasar ada bioskop Panti Karya, lantai dua dipakai perkantoran, lantai tiga ada Akademi Akuntansi, pada lantai Panti Karyaempat dan lima ada stasiun radio swasta di mana saya beraktivitas. Sepengetahuan saya, gedung ini adalah milik Yapenka, yang pada periode itu dipimpin oleh Bapak Ir. Santoso, amat terawat, pikabetaheun.
    sumber : http://www.bandungheritage.org/
Judul Foto : Diatas Sebuah Kota
Lokasi : Menara Masjid Raya Bandung, Jalan Alun-alun
Tipe Kamera : Kodak C1013
Deskripsi :
  • Salah satu menara masjid raya Bandung dapat dinaiki dengan membayar infak sebesar Rp. 2000,-. Dari menara ini kita dapat melihat seluruh penjuru kota Bandung. Menara mesjid ini terbuka untuk umum pada hari Sabtu - Minggu sampai pukul 17.00 WIB. Di atas menara terdapat beberapa larangan seperti: dilarang mengotori mesjid(sehingga sepatu atau sandal harus dikresekin), dilarang pacaran (tentu saja mesjidkan rumah Allah SWT), Paling lama diatas menara selama 15 menit

Thursday, April 29, 2010

Cerita Singkat tentang Gedung "De Driekuer"


Bank BTPN yang dulunya kantor berita Domei
Bangunan karya arsitek Belanda Albert Frederik Aalbers itu dibangun pada akhir dekade 1930. Tujuan pembangunannya untuk kantor sekaligus rumah seorang pengusaha China(menurut http://djawatempodoeloe.multiply.com gedung ini merupakan kediaman Aalbers ) .Pada masa pendudukan Jepang, bangunan itu difungsikan sebagai Kantor Berita Domei. Pada 17 Agustus 1945, Kantor Berita Domei menerima kawat berisi teks proklamasi. Bangunan Drie Kleur menjadi saksi dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan Indonesia di Kota Bandung untuk pertama kalinya. GEDUNG De Drie Kleur (dalam bahasa belanda artinya Tiga Warna kemungkinan warna bendera belanda yaitu merah putih biru ) di sudut Jln. Sultan Agung dengan Jln. Ir. H. Djuanda (Dago) yang kini menjadi kantor Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN).Pada 17 Agustus 1945, Kantor Berita Domei menerima kawat berisi teks proklamasi. Bangunan Drie Kleur menjadi saksi dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan Indonesia di Kota Bandung untuk pertama kalinya. Bangunan ini banyak dipengaruhi oleh aliran Nieuw Bouwen- gaya arsitektur yang berkembang di Hindia Belanda pada akhir tahun 1930-yang memperlihatkan garis-garis stream line. Gaya ini mengutamakan kesederhanan tanpa banyak ornamen dekoratif. Tampak bahwa pengutamaan kesederhanan ini menunjukkan perbedaannya dari gaya art deco, yang menonjolkan unsur dekoratif. Konsep aliran Nieuw Bowen (istilah aliran yang dipakai oleh arsitek Belanda pada akhir 1930an) sangat terasa pada bangunan De DrieKleur yang bergaya bangunan mirip Hotel Savoy Homann. Bangunan Drie Kleur memperlihatkan adanya proses perkembngan gaya Art Deco yang mulai melepaskan unsur-unsur dekoratifnya. Selain itu villa Tiga Warna punya simetri keras tanpa menara. Sebelumnya, bangunan bersejarah ini pernah digunakan sebagai kantor polisi, bahkan pernah juga dijadikan diskotek.

Sumber : http://www.bandungheritage.org/
http://www.pikiranrakyat.com/

Saturday, April 10, 2010

Jam-jam dengan angka Romawi seperti ini IIII

Jam-jam dengan angka Romawi seperti ini IIII

1. Jam Pada Bangunan Bank Mandiri dijalan Asia Afrika




2. Jam Pada Bethel Church di jalan Wastukencana





3. Jam Gadang Pasar Bukittinggi


Jam yang dibangun pada 1926 ini, diarsiteki Yazin dan Sutan Gigi Ameh
ini berdiri megah di pusat Bukittinggi sebagai ikon Sumbar
Sepintas, mungkin tidak ada keanehan pada bangunan jam setinggi 26
meter tersebut. Apalagi jika diperhatikan bentuknya, karena Jam Gadang
hanya berwujud bulat dengan diameter 80 sentimeter, di topang basement
dasar seukuran 13 x 4 meter, ibarat sebuah tugu atau monumen. Oleh
karena ukuran jam yang lain dari kebiasaan ini, maka sangat cocok
dengan sebutan Jam Gadang yang berarti jam besar.

Bahkan tidak ada hal yang aneh ketika melihat angka Romawi di Jam
Gadang. Tapi coba lebih teliti lagi pada angka Romawi keempat.
Terlihat ada sesuatu yang tampaknya menyimpang dari pakem. Mestinya,
menulis angka Romawi empat dengan simbol IV. Tapi di Jam Gadang malah
dibuat menjadi angka satu yang berjajar empat buah (IIII). Penulisan
yang diluar patron angka romawi tersebut hingga saat ini masih
diliputi misteri. Tapi uniknya, keganjilan pada penulisan angka
tersebut malah membuat Jam Gadang menjadi lebih "menantang" dan
menggugah tanda tanya setiap orang yang (kebetulan) mengetahuinya dan
memperhatikannya. Bahkan uniknya lagi, kadang muncul pertanyaan apakah
ini sebuah patron lama dan kuno atau kesalahan serta atau atau yang
lainnya.

Dari beragam informasi ditengah masyarakat, angka empat aneh tersebut
ada yang mengartikan sebagai penunjuk jumlah korban yang menjadi
tumbal ketika pembangunan. Atau ada pula yang mengartikan, empat orang
tukang pekerja bangunan pembuatan Jam Gadang meninggal setelah jam
tersebut selesai. Masuk akal juga, karena jam tersebut diantaranya
dibuat dari bahan semen putih dicampur putih telur. Jika dikaji
apabila terdapat kesalahan membuat angka IV, tentu masih ada
kemungkinan dari deretan daftar misteri. Tapi setidaknya hal ini
tampaknya perlu dikesampingkan. Sebagai jam hadiah dari Ratu Belanda
kepada controleur (sekretaris kota), dan dibuat ahli jam negeri Paman
Sam Amerika, kemungkinan kekeliruan sangat kecil.

Tapi biarkan saja misteri tersebut dengan berbagai kerahasiaannya.
Namun yang patut diketahui lagi, mesin Jam Gadang diyakini juga hanya
ada dua di dunia. Kembarannya tentu saja yang saat ini terpasang di
Big Ben, Inggris. Mesin yang bekerja secara manual tersebut oleh
pembuatnya, Forman (seorang bangsawan terkenal) diberi nama Brixlion.
Sekarang balik lagi ke angka Romawi empat, apakah pembuatan angka
empat yang aneh itu disengaja oleh pembuatnya, juga tidak ada yang
tahu. Tapi yang juga patut dicatat, bahwa Jam Gadang ini peletakan
batu pertamanya dilakukan oleh seorang anak berusia enam tahun, putra
pertama Rook Maker yang menjabat controleur Belanda di Bukittinggi
ketika itu.

Ketika masih dalam masa penjajahan Belanda, bagian puncak Jam Gadang
terpasang dengan megahnya patung seekor ayam jantan. Namun saat
Belanda kalah dan terjadi pergantian kolonialis di Indonesia kepada
Jepang, bagian atas tersebut diganti dengan bentuk klenteng. Lebih
jauh lagi ketika masa kemerdekaan, bagian atas klenteng diturunkan
diganti gaya atap bagonjong rumah adat Minangkabau. Di tengah usia
yang ke 84 tahun, jam yang dibangun dengan biaya 3.000 gulden (saat
itu), saat ini masih berdiri kokoh sebagai ikon pariwisata Sumbar







Alasan penggunaan penulisan angka empat Romawi dengan simbol IIII bukan VI terdapat tiga versi.

  1. Sebuah cerita mengisahkan seorang Clockmaker membuat jam khusus untuk seorang Raja Perancis saat itu yaitu Louis XIV. Saat ditunjukkan jam buatannya tersebut, sang Raja menolak dan meminta agar angka 4 dibuat dalam bentuk IIII dan bukannya IV seperti yang dibuat oleh Clockmaker itu. Walaupun sudah dijelaskan kebenarannya, sang raja tetap bersikeras agar bentuk diganti dengan IIII. Akhirnya Clockmaker menyetujui dan sejak saat itu hampir semua jam menerapkan bentuk IIII daripada IV untuk penunjuk jam 4.
  2. Penjelasan lebih logis adalah berdasarkan dari sisi estetika. Sebuah jam dengan penunjuk angka Romawi akan terdiri dari bentuk I, V dan X yang tersebar. Apabila angka 4 dibuat dengan bentuk IV, akan terjadi 'ketidak-seimbangan' dari sisi estetika antara bagian kiri dial dan kanan dial. Bentuk VIII pada sisi kiri berhadapan dengan bentuk IV pada sisi kanan. Bentuk VIII dirasakan 'lebih berat' daripada bentuk IV, dan agar terjadi keseimbangan maka bentuk IV diganti dengan IIII.
  3. Alasan lain penggunaan IIII dipilih daripada bentuk IV adalah dari sisi pemaknaan. Dalam Bahasa latin penggunaan bentuk IV tidak digunakan karena simbol IV merujuk pada salah satu Dewa orang Romawi yaitu Jupiter yang sering disingkat sebagai JU. Huruf J pada Bahasa Latin ditunjukkan dengan bentuk I sedangkan huruf U ditunjukkan dengan bentuk V, karena itu IV sama dengan makna JU yang berarti Jupiter. Karena itu sangat dihindari penulisan IV di tempat-tempat umum yang dianggap 'tidak terhormat'



Referensi :
http://jamkuno.blogspot.com/2009/08/why-iiii-instead-of-iv.html
Padang Ekspres ONLINE, Kamis, 13-Desember-2007