Showing posts with label expedisi dan eksplorasi. Show all posts
Showing posts with label expedisi dan eksplorasi. Show all posts

Wednesday, March 28, 2012

Kunjungan Ke Rumah Zero Waste Milik Supardiyono Sobirin


Bandung -Ditemani matahari pagi yang menyehatkan, tim trainer beserta staf  dan relawan dari YPBB(Yayasan Pengenmbangan Biosains dan Bioteknologi) melakukan kunjungan ke rumah Supardiyono Sobirin di jalan Alfa 92 Cigadung (Sabtu,24/3/2012).
“Selamat datang di rumah saya, Rumah Zero Waste,” sambut bapak Sobirin menyambut kedatangan rombongan tim trainer, staf, dan relawan dari YPBB yang ingin mengetahui bagaimana keluarga beliau mengolah sampah rumah tangga yang dihasilkan.
Suparyono Sobirin, pemilik rumah 'zero waste'

Ternyata kali ini bukan YPBB saja yang melakukan kunjungan, di halaman depan rumah  Sobirin telah berkumpul pula perwakilan warga dari desa cilengkrang yang diteman oleh bapak camatnya. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk belajar untuk tentang pengelolaan sampah skala rumah tangga.  
Berkaitan dengan Rumah Zero Waste, bapak Sobirin menjelaskan semenjak empat tahun lalu beliau menganut prinsip “Zero Waste” yang beliau aplikasikan mulai dari rumah beliau sendiri dan berlanjut menulari warga -warga disekitar . “Rumah Zero Waste”yang berarti rumah yang sama sekali tidak menghasilkan sampah.
 Apakah itu mungkin terjadi?

Mungkin saja. Rumah Zero Waste bermula dengan pemisahan sampah. Menurut Sobirin, sampah rumah tangga yang dihasilkannya sekitar 60% berupa sampah organik ──persentase ini tidak selalu tetap, dapat berubah setiap harinya──, 40% sampah lain yang terbagi lagi atas: 20% sampah plastik;  10% sampah kertas; dan 10% sampah lain-lain.  Setelah dilakukan pemisahan sampah, tahap selanjutnya pengolahan dan pemanfaatan. Untuk sampah plastik, dilakukan pemilahan antara botol dan plastik bekas makanan. Sampah yang telah dipilah di cuci hingga bersih. Untuk botol-botol diberikan pada pemulung dan plastik bekas makanan dapat dikreasikan menjadi kerajinan tangan.
Sampah organik… Untuk jenis sampah yang satu ini, Pak Sobirin mengolahnya dengan beberapa metode. Untuk sampah basah seperti peuyeum,bongkol pisang,  kencing serta kotoran kelinci diolah  menjadi mol (pupuk cair). Ada tiga jenis mol yang diproduksi oleh bapak Sobirin dipekarangan rumahnya yaitu mol peuyeum ( membantu pengomposan sampah dan mempercepat pembentukkan buah), mol air kencing kelinci (mempercepat pembentukkan buah dan  pertumbuhan daun), dan mol bongkol pisang (mempercepat pembentukkan buah dan pertumbuhan daun).  Untuk membuat mol diperlukan ¾ dari volume tempat  untuk air, satu kilogram gula, enam gelas air kelapa, serta satu kilogram bahan baku. Setelah dicampur dan diaduk didiamkan selama empat hari. Di hari kelima, mol sudah siap digunakan sebagai pupuk cair atau pun untuk pengomposan.

Jenis Mol yang diproduksi oleh Bapak Sobirin Supardiyono

Sampah dipekarangan rumah seperti daun, ranting, bangkai tikus, dan lainnya difermentasi secara aerob maupun anaerob yang menghasilkan pupuk kompos. Pengomposan secara aerob, Pak Sobirin sengaja membuat bak khusus dengan ukuran 1m x 1m x 1m disamping rumah dengan berventilasi. Bagian bawah khusus di design memiliki pintu agar dapat memanen  kompos.  Sampah pekarangan di potong kecil kecil lalu ditumpuk didalam bak. Setiap hari dilakukan pengadukkan dan setaip tiga hari sekali diberi campuran ketiga mol. Hasil pengomposan secara aerob dapat dipanen setelah satu bulan. Pengomposan secara anaerob dilakukan di halaman dengan bagian atas ditutup. Sampah yang akan dikompos, sengaja biarkan bersentuhan dengan tanah. Proses yang dilakukan sama dengan proses pengomposan secara aerob. Panen hasil untuk pengomposan ini dapat dilakukan setelah enam bulan.
Selain itu, prinsip segala sesuatu itu dapat diolah dan dijadikan sesuatu yang bermanfaat dapat terlihat di pekarangan belakang rumah Pak Sobirin. Di pekarangannya yang luas itu terdapat kandang kelinci, penampungan air hujan, dan  pengolahan limbah cuci dapur. Kotoran dari kelinci berserta kencingnya, beliau manfaatkan menjadi mol.
Untuk air bekas cucian dapur, Pak Sobirin membuat treatmen khusus. Beliau membuat kolam kecil bertingkat tiga seluas satu meter persegi. Tingkat ketiga terdiri dari dua kolam kecil. Kolam satu berukuran 40 cm x15 cm dan kolam dua 40 cm x25 cm. Antar kolam dibatasi dinding beton tipis dan berlubang sebagai saringan. Selain itu, pada kolam satu juga diberi busa karet yang berfungsi sebagai penyaring. Kolam tiga yang berukuran 60 cm x 40 cm berada pada tingkat kedua. Kolam ini menampung air yang berasal dari kolam dua dan mengalirkan air ke kolam 4 (kolam terbesar yang berukuran 100 cm x 60 cm) yang terletak didasar melalui pipa paralon.  Kolam 2,3, dan 4 bisa di jadikan “taman air limbah” dengan menanam tanaman air (teratai, melati air, enceng) sebagai penyerap bahan pencemar dalam air bekas cucian atau kolam ikan (jenis ikan yang tahan hidup dalam bekas air cucian dapur).
Air hujan yang turun di halaman rumah beliaupun ikut dimanfaatkan. Beliau menampungnya dan  menanfaatkannya untuk menyiram tanaman,  dan mencuci tangan setelah membersihkan pekarangan. Menampungan air ini tidak memiliki treatmen khusus. Menurut beliau, air hujan tidak perlu di treatmen lagi karena di alam sendiri proses tersebut telah dilakukan. Namun Tian, salah seorang relawan YPBB,  memiliki pandangan lain. Air hujan  pada zaman sekarang sudah terkena polusi asap pabrik, kendaraan dan polusi-polusi lain sehingga perlu treatmen khusus untuk menguranginya
Sebisa mungkin tidak ada sampah yang keluar dari rumah’ merupakan prinsip dianut oleh keluarga Pak Sobirin yang dapat ditiru oleh keluarga lain untuk mengurangi sampah dari rumah.__Hani   

Foto Bersama, Volunteer, Staff YPBB dan Pak Sobirin Supardiyono


Wednesday, December 7, 2011

Imajinasi saat kuliah Hukum Lingkungan


23 Agustus 2011

Setengah mengantuk mengikuti kuliah "Hukum Lingkungan" yang diajarkan oleh bapak Sutan Adjamsjah yang diadakan pada pukul 16.00-18.00. Saat beliau menerangkan slide mengenai 'Ekologi dan Teknis Berproduksi dari Lingkungan Hidup' khususnya tentang penjelasan tentang teknis ekstratif adalah masa dimana saya sangat tidak konsentrasi dan mengantuk. Namun ada beberapa hal yang menarik dari ocehan beliau.

"Teknis ekstraktif adalah suatu proses mengambil sesuatu dari alam untuk memenuhi kebutuhan manusia" setidaknya itulah yang saya tangkap dari penjelasan beliau.
Menurut http://www.kamusbesar.com/9985/ekstraktif kata ekstraktif tergolong kepada kelompok adjektiva yang berarti bersifat ekstraksi.

Otak saya mulai kembali bekerja saat beliau memberikan  contoh akibat teknis ekstraktif pada penambangan terbuka yang terjadi di Tembagapura (FreeFort) yang dampaknya tidak terlalu kentara karena merupakan daerah kosong (tidak terdapat permukiman) dan penambangan timah di Bangka Belitung yag meninggalkan lubang galian besar.

Imajinasi saya membawa melihat suatu contoh kasus yang terjadi di daerah yang pernah saya kunjungi 5 tahun yang lalu. Tepatnya didaerah Sawahlunto.
Kota Sawahlunto terkenal dengan julukkan kota mutiara hitam, kota arang,dan kota tambang. Julukkan tersebut emang pantas diberikan karena sebagian besar matapencarian penduduknya ditopang dari sektor pertambangan khususnya batubara. Sawahlunto pernah menjadi pengahsil batubara terbesar di Indonesia. Sejarah berdiriannya pertambangan batubara dikota ini dimulai sejak ditemukannya cadangan batu bara di kota ini oleh seorang geolog Belanda bernama Ir. William Hendrik De Greve pada tahun 1867 yang diperkirakan depositnya 200 juta ton. Dengan potensi tersebut, 1 Desember 1888 pemerintah Hindia-Belanda mulai melakukan investasi sebesar 5.5 juta gulden untuk membangun berbagai fasilitas pengusahaan tambang batubara, dalam memenuhi kebutuhan industri dan transportasi masa itu. Dan kemudian peristiwa ini diabadikan sebagai Hari Jadi Kota Sawahlunto. Tahun 1982 merupakan awal produksi batubara dari kota ini dan dimulai  kawasan ini menjadi pemukiman pekerja tambang, dan berkembang menjadi sebuah kota kecil dengan penduduk yang intinya adalah pegawai dan pekerja tambang.

Untuk memudahkan pengangkutan batubara, pemerintah Hindia-Belanda membangun jalur kereta api yang menghabiskan dana sebesar 17 juta gulden, menghubungkan kota Sawahlunto dan kota Padang (1894).

Sebelum menjadi daerah pertambangan, Sawahlunto merupakan kamp tahanan. Sehingga hingga tahun 1898, penambangan dilakukan oleh orang rantai (narapidana yang dipaksa bekerja untuk menambang dengan  upah yang murah). Tahun 1908 untuk upah buruh paksa adalah sebesar 18 sen/hari dan setiap pembangkangan dikenakan sangsi hukum cambuk. Untuk buruh kontrak mendapatkan bayar sebesarr 32 sen/hari dan mendapatkan fasilitas tempat tinggal serta jaminan kesehatan. Sedangkan untuk buruh bebas upahnya sebesar 62 sen/hari tanpa mendapat fasilitas apapun.

Tahun 1918 kota Sawahlunto telah dikategorikan sebagai Gemeentelijk Ressort atau Gemeentedengan luas wilayah 778 Ha, atas keberhasilan kegiatan pertambangannya. Adanya  kereta api telah mendorong produksi pertambangan batubara memberikan hasil yang positif, dimana pada tahun 1920 produksi batu bara dari hanya puluhan ribu ton menjadi ratusan ribu ton per tahun, dari usaha yang rugi menjadi usaha dengan laba besar sampai 4,6 juta gulden dalam setahun.
Setelah kemerdekaan Indonesia, selanjutnya hak penambangan dikelola oleh negara dan diberikan kepada PT Tambang Batubara Ombilin (TBO), namun kemudian perusahaan ini dilikuidasi menjadi anak perusahan dari PT. Bukit Asam yang terdapat di Sumatera Selatan. Dan seiring dengan reformasi pemerintahan dan bergulir otonomi daerah, masyarakat setempat pun menuntut untuk dapat melakukan penambangan sendiri.

Dari sekian banyak perusahaan yang melakukan operasi penambangan, yang menarik perhatian saya adalah kasus PT. PAMA Persada Nusantara.
Sekitar tahun 2003, kedalaman eksploitasi melalui tambang terbuka yang dilakukan perusahaan tambang ini mencapai kedalaman 175 meter dikaki bukit Tanah Hitam.Tak jauh dari lokasi penam­bangan tersebut, terdapat aliran Sungai Batang Ombilin yang berasal dari Danau Singkarak yang bermuara dipantai timur Sumatera. Aktifitas penambangan ini bergerak terus menuju dinding pembatas antara kawasan tambang dan sungai. Denga keadaan dinding penahan yang rapuh menyebabkan aliran Batang Ombilin dapat menjebol dinding pembatas.Tanggal 25 April 2003 dalam waktu  kurang dari setengah hari, seluruh kawasan pertambangan milik PT. PAMA Persada Nusantara berubah menjadi danau, menenggelamkan puluhan orang pekerja tambang, serta menyebabkan aliran sungai Batang Ombilin kering selama 3 jam. Danau yang terbentuk tak sengaja ini oleh masyarakat setempat diberi nama Danau Kandih.

Sejak kejadian itu, pemerintah Sawahlunto mengalihfungsikan kawasan tersebut menjadi arena rekreasi air di Sawahlunto.Di area Kandih dapat ditemukan berbagai atraksi olah raga air. Masih kawasan sekitar danau Kandih, pemerintah Sawahlunto juga membangun sebuah kebun binatang tematik.Selain itu, Danau Kandih juga dijadikan kawasan perikanan tambak. Namun dalam beberapa tahun kedepan, nama Danau Kandih Sawahlunto akan segera terhapus dari daftar salah satu objek wisata di ‘Kota Arang’ tersebut. Hal ini dikarenakan, danau yang terbentuk akibat kecelakaan alias jebolnya aliran Batang Ombilin itu akan segera ditimbun karena dinilai tidak lagi efektif sebagai objek wisata maupun lokasi perikanan. Rencana penimbunan tersebut dikarenakan kecenderungan danau yang semakin mendangkal dari waktu ke waktu. Dari awalnya memiliki kedalaman 80 meter hingga mencapai 175 meter, sekarang danau ini hanya memiliki kedalaman 15 meter hingga 45 meter. Pendangkalan terjadi akibat sedimen berupa lumpur dari pengikisan tebing yang ada di arel Kandi serta endapan an-organik dari aliran sungai Ombilin, yang juga bisa mencemari lingkungan hidup dikawasan itu.Sedimentasi pada dasar danau membentuk lumpur hisap yang sangat berbahaya jika digunakan sebagai lokasi wisata.
Selain itu, danau kandih juga memiliki zat asam yang tinggi yang menyebabkan kematian pada tambak. Semoga saja penimbunan danau Kandih menjadi solusi terbaik untuk dampak pertambangan terbuka di kota Sawahlunto



Friday, February 18, 2011

Journey of the Tahura Juanda






17 Juli 2010


Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 7.00, dengan malasnya saya berjalan menuju kamar mandi... Hal yang paling malas untuk dilakukan dipagi hari... Hari ini saya ada janji untuk survey wilayahTaman Hutan Raya Juanda dengan anak-anak WAW (Wildlife and Animal Welfare) UGREEN. Tapi yang konfirm bisa ikut Cuma dikit hiks... hiks... sedih. Akhirnya team survey berkumpul yang terdiri atas saya, Odit dan Fiko di Mc D Simpang Dago. Sedangkan Dhika menunggu di pintu gerbang Tahuranya karena rumahnya di depan pintu masuk Tahura. Jalan menunju pintu masuk tahura melalui rute pejalan kaki menanjak. Aroma menyegarkan bungasari pinus meksiko (Pinus montecumae) dan suara sayup – sayup prenjak jawa (Prinia Flaviventris) berkicauan akan ditemui di Tahura ( Taman Hutan Raya) Ir H Juanda, Lembang, Bandung. Tempat ini “surga” bagi yang hobi petualangan, tracking, botanikus, dan geologis. Kawasan seluas 526,98 hektar ini bukan hanya tempat konservasi flora dan fauna, tetapi juga arkeologi dan prasejarah. Terdapat museum berisi artefak, seperti kapak batu dan mata panah. Tahura diresmikan tanggal 14 Januari 1985 oleh Presiden Soeharto. Fungsi Tahura lainnya untuk penyangga resapan air. Daerah yang memiliki topografi bergelombang ringan, agak curam dan terjal yang terletak di ketinggian 700 – 1300 meter dari permukaan laut ini merupakan ekosistem dari berbagai flora dan fauna, baik yang endemis maupun yang tidak. Tahura Ir. H Juanda memilik tipe iklim B dengan curah hujan rata-rata 2.500-4.500 mm per tahun. Suhu udara berkisar antara 22°C-24°C. Wilayah Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda memiliki tipe vegetasi hutan alam sekunder yang didominasi oleh jenis pohon Pinus (Pinus merkusii), Kaliandra (Calliandra callothyrsus), Bambu (Bambusa sp.) dan berbagai jenis tumbuhan bawah seperti tumbuhan Teklan (Euphatorium sp.). Fauna yang terdapat di dalam kawasan taman hutan raya ini antara lain Musang (Paradoxurus herma paproditus), Tupai (Callosciurus notatus), Kera (Macaca insularis) serta berbagai jenis burung seperti Kepondang (Oriolus chinensis), Kutilang (Pycnontus caferaurigaster) dan Ayam hutan (Gallus gallus bankiva). Berdasarkan hasil inventarisasi tahun 2003 tercatat sedikitnya sembilan fauna khas di tempat ini, antara lain burung kacamata (Zosterops palpebrosus) dan bondol jawa (Lonchura leucogastroides).Sebanyak 112 spesies tanaman dari 40 famili juga ditemukan disini. Di Tahura terdapat goa Jepang yang luasnya 350 meter persegi dan memiliki empat pintu dan tiga lorong. Goa yang dibangun tahun 1942 merupakan tempat persembunyian tentara Jepang dari Sekutu. Sekitar 300 meter timur laut dari Goa Jepang terdapat goa Belanda yang dibangun tahun 1941. Dahulu dipergunakan sebagai terowongan PLTA bengkok. Karena perbukitan Pakar merupakan kawasan yang sangat menarik bagi strategi militer Belanda(hal in dikarena lokasinya yang terlindung dan begitu dekat dengan pusat kota Bandung), maka menjelang perang dunia II pada awal 1941 Militer Hindia Belanda membangun stasiun Radio Telekomunikas. Bangunan ini berupa jaringan Goa di dalam perbukitan batu pasir tufaan Hanya dengan tiket Rp.8000 per orang, anda bisa menikmati petualangan tracking ria sambil menikmati panorama alam di sekitar Tahura Ir H Djuanda.Jaraknya sekitar 6 kilometer dari Dago Pakar sampai Maribaya. Di sepanjang jalan rute jogging track tersebut akan ditemui kicau jalak suren (Sturnus Contra) atau perkutut (Geopelia Striata). Kadang – kadang terdengar gonggongan anjing kampung menyalaki kera – kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang memunguti remah – remah makanan pengunjung. Di Maribaya nanti akan ditemui Curug Omas, air terjun yang sangat indah pemandangannya. Macaca Fascicular si ekor panjang yang eksotis Sepanjang perjalanan dari pintu masuk II menuju Maribaya pos VI, jika jeli mengamati sekitar banyak kera ekor panjang (Macaca Fascicular). M. fascicularis merupakan salah satu satwa liar yang statusnya hingga saat ini masih belum terdaftar sebagai spesies yang dilindungi. Namun demikian usaha-usaha untuk menjaga populasinya di alam harus tetap dilakukan. Karena tekanan terhadap populasi kera ini kian hari kian menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan dan terus mengalami penurunan. Penyebaran populasinya M. fascicularis banyak terdapat di kawasan Asia Tenggara, mulai dari Myanmar, Indochina, Malaysia dan Indonesia. Bahkan juga ditemukan di pulau Timor. Penyebarannya di Indonesia mencakup sebagian besar wilayah Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara sampai Flores. Panjang tubuh kera dewasa sekitar 40-50 cm belum termasuk ekor dengan berat 3 -7 kg. Sementara panjang ekor 1 hingga 1,5 kali panjang tubuh berikut kepala dengan warna coklat keabu-abuan atau kemerah-merahan. Bulunya berwarna coklat abu-abu hingga coklat kemerahan sedangkan wajahnya berwarna abu-abu kecoklatan dengan jambang di pipi berwarna abu-abu, terkadang terdapat jambul di atas kepala. Hidungnya datar dengan ujung hidung menyempit. Kera ini memiliki gigi seri berbentuk sekop, gigi taring dan geraham untuk mengunyah makanan Kera ini merupakan jenis satwa yang hidup berkelompok, dimana bisa mencapai hingga 30 ekor dalam tiap kelompok. Biasanya dalam setiap kelompok ada seekor adult male (jantan dewasa) yang menjadi pemimpin dan mendominasi anggota yang lain. Hirarki dalam komunitasnya ditentukan oleh beberapa faktor seperti usia, ukuran tubuh dan keahlian berkelahi. Mereka memasuki masa kawin pada umur enam tahun untuk pejantan dan empat tahun untuk betina. Jangan harap ada kesetiaan dalam komunitas ini. Karena pejantan biasanya kawin dengan banyak betina. Sebagai golongan omnivora yang memakan daging dan tumbuhan. Makanannya bervariasi dari buah-buahan, daun, bunga, jamur, serangga, siput, rumput muda, dan lain sebagainya. Bahkan kera ini kerap pula memakan kepiting. Tetapi, 96 % konsumsi makanan mereka adalah buah-buahan.
Setelah istirahat di curug omas... melanjutkan perjalanan menuju pintu IV Maribaya..
Dijalan dikejar tukang ojek dan ketemu 2 ekor anak ular yang lagi maen-maen
Selanjutnya perjalanan berlanjut ke lembang untuk balik ke bandung
Sumber












Ayo hitung berapa umur pohonnya?





















Monyet ekor panjang


Monday, August 9, 2010

Kisah Perjalanan Ke Karst Citatah


Minggu,6 Juni 2010

Kali ini saya dan penggiat aleut bertandang ke pegunungan kapur daerah Padalarang yang dikenal dengan sebutan karts citatah. Perjalanan dimulai dari pangkalan Damri di depan situ Ciburuy.
1. Situ Ciburuy.
Pada awalnya, Situ Ciburuy merupakan dua buah sungai kecil yang ujungnya bertemu di Desa Ciburuy. Akhirnya, tahun 1918, lokasi pertemuan kedua sungai itu dibendung menjadi sebuah telaga dan airnya diatur untuk mengairi sawah-sawah desa. Lama kelamaan, bendungan ini airnya makin tinggi dan menggenangi wilayah seluas 14.76 ha. Tanah tertinggi di tengah-tengah danau tidak tergenang, yang membentuk sebuah pulau mungil. Mayarakat setempat lantas memberinya nama Situ Ciburuy yang diambil dari desa tempat pertemuan dua sunagi kecil tersebut.

Awal 1942, seorang Belanda bernama Tuan Bempi mengantongi hak memelihara ikan dari pemerintah Hindia Belanda di danau itu. Ikan-ikannya berkembang pesat. Untunglah Tuan Bempi tidak kikir. Ia bahkan dikenal sebagai dermawan yang sering membantu warga desa. Karena kesibukannya dibidang lain, pengelolaan sehari-harian danau ia percayakan kepada Romli, warga Desa Ciburuy.

Sayang, tahun itu Jepang masuk RI. Semua orang Belanda ditawan dan dibawa ke Jakarta, termasuk Tuan Bempi. Sejak itu, keberadaan Tuan Bempi tidak diketahui lagi.
Sepeninggal beliau, Romli-lah yang mengurus Situ Ciburuy. Karena tak ada pemiliknya lagi, ia lantas mempersilahkan kepada siapa saja untuk mengambil ikan di tempat itu.
Meski tak lagi ada yang memiliki, Romli tetap menjaga danau itu dengan setia. Suasana danau seakan menyatu dengan dirinya. Keadaan itu berlangsung hingga Romli naik haji dan meninggal dunia tahun 1994. Romli pun diberi gelar sebagai kuncen Situ Ciburuy. H Abdul Solihin (70), keponakan H Romli, menceritakan bahwa semasa hidupnya, H Romli sering didatangi Tuan Bempi dalam tidurnya.
Kondisi Situ Ciburuy semakin dangkal meski debit air tergantung curah hujan.Perjalananpun dilanjutkan setelah membeli perbekalan yang dibutuhkan. Jalan yang disusuri untuk mencapai gunung lawu melewati permukiman warga. Disalah satu rumah warga, dapat disaksikan lele dengan ukuran jumbo.
Setelah melswati pemukiman warga, saya dan para penggiat aleutpun melewati pabrik-pabrik yang bahan batunya berasal dari gamping (batu kapur).


situ ciburuy

Para lele jumbo hehehehe


2. Kawasan Kart Citatah
Istilah karst yang dikenal di Indonesia sebenarnya diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia. Istilah aslinya adalah ‘krst / krast' yang merupakan nama suatu kawasan di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat kota Trieste . Karst merupakan topografi unik yang terbentuk akibat adanya aliran air pada bebatuan karbonat (biasanya berupa kapur, dolomit atau marmer). Proses pembentukan Karst melibatkan apa yang disebut sebagai "karbon dioksida ke bawah”. Hujan turun melalui atmosfer dengan membawa CO2 yang terlarut dalam tetesan. Ketika hujan sampai di tanah, ia terperkolasi melalui tanah dan menggunakan lebih banyak CO2 untuk membentuk larutan lemah dari asam karbonat: CO2 + H2O = H2CO3. Infiltrasi air secara natural membuat retakan dan lubang pada batuan. Dalam periode waktu yang lama, dengan suplai CO2 terus-menerus - yang kaya air, lapisan batuan karbonat mulai melarut.
Kawasan karst Citatah termasuk warisan tertua di Pulau Jawa. Terbentang sepanjang enam kilometer dari Tagog Apu hingga selatan Rajamandala, jajaran gunung batu ini terbentuk pada zaman Miosen, 20-30 juta tahun silam (KRCB, 2006). Kawasan Karst Citatah ini meliputi: Goa Pawon, Pasir Pawon, Pasir Masigit, Pasir bancana, Karangpanganten, Gunung Manik, Pasir Pabeasan dan Gunung Hawu. Didaerah karst Citatah juga ditemukan situs purbakala berupa alat-alat batu, gerabah, bongkah andesit sebagai alat tumbuk dan tulang-tulang binatang (gigi, kuku, rahang) di lingkungan Gua Pawon merupakan temuan arkeologi spektakular di Jawa Barat. Lokasi yang dikunjungi oleh penggiat aleut di kawasan karst citatah ini adalah
- Brigde stone (Gunung Hawu) harta alam yang terpendam dan terancam
Lengkungan yang secara keseluruhan merupakan lubang di dinding batu gamping tersebut memiliki ukuran lebarebih kurang 30 m, tinggi 70 m, menggantung di atas dinding setinggi 30 m dari jalan tambang di bawahnya.Lengkungan alami Gunung Hawu di Citatah terbentuk dari batu gamping dan prosesnya lebih mirip pembentukan Jembatan Alami Virginia Proses karstifikasi yang merupakan proses pelarutan senyawa karbonat sebagai bahan utama batu gamping adalah penyebab terbentuknya lengkungan alami Gunung Hawu. Sangat jelas sekali bahwa lubang yang terbentuk dikontrol oleh retakan yang memanjang hampir utara-selatan.Sebuah lubang vertikal yang sangat dalam diduga merupakan proses awal terbentuknya lengkugnan ini. Lubang vertikal ini adalah gejala khas di daerah karst batu gamping hasil dari runtuhan atap gua atau collapse sinkhole. Proses berikutnya diduga merupakan proses pelubangan secara karstifikasi ke arah samping searah kemiringan lapisan batu gamping yang sangat curam ke arah selat Jika di Utah lengkungan-lengkungan alaminya dilindungi sebagai monumen nasional, di Citatah fenomena alam yang di Indonesia sekalipun sangat langka ini berada sangat dekat sekali dengan wilayah penggalian batu gamping (kapur). Kira-kira 100 m dari fenomena langka ini, truk-truk tambang hilir mudik mengangkut bongkah-bongkah batu yang dibongkar dari lereng-lerengnya. Bahkan tepat di batas utara lengkungan alami ini terdapat sisa-sisa penggergajian batu gamping untuk pembuatan marmer. Sunguh mengenaskan nasibnya !


Brigde Stone padalarang... Yang tidak kalah dengan yang ada di Taman Nasional Yosemite

T 125

T125 maksudnya adalah tebing dengan ketinggian 125 m.

- Stone Garden dan Gunung Masigit
Pada Stone Garden terdapat gejala mikro-karst yang membentuk bongkah-bongkah menonjol dari permukaan tanah yang menjadikan puncak bukit. Hal ini juga terjadi diatas Goa Pawon. Proses pelarutan yang berjalan pada retakan-retakan batugamping menyembulkan sisa-sisa pelarutannya berupa bongkah batu gamping yang tersusun dengan tidak teratur dan tinggi yang berbeda-beda dan berelief kasar. Sekarang Stone Garden dimanfaatkan sebagai ladang oleh penduduk setempat. Selain itu di stone garden ini juga terdapat makam.(Untuk ini saya kurang tahu banyak). Dari stone Garden ini juga dapat dilihat gunung masigit yang telah tergerus hingga tinggal setengahnya oleh penambangan batu gamping. Kondisi yang sangat menyedihkan.

- Goa Pawon Tempat tinggalnya Ki Sunda

Pawon memiliki arti dapur menurut legenda orang Sunda (legenda Sangkuriang), gua ini dulunya adalah dapur Dayang Sumbi. Kenyataannya menurut para ahli tempat ini memang difungsikan sebagai dapur oleh manusia prasejarah dengan ditemukannya fosil sisa-sisa makanan dan biji buah-buahan. Gua Pawon sebenarnya merupakan gua yang tidak mempunyai lorong-lorong yang panjang dan gelap, tapi hanya terdiri dari banyak ruang (10 ruang besar) yang merupakan ceruk di dinding bukit.
Di bagian kiri atas gua ini, ada sebuah spot yang dinamakan Sumur Bandung. Sumur Bandung ini sebenarnya bukanlah sebuah sumur, lebih seperti sebuah kolam kecil yang cukup dalam yang tentu aja berisi air. Konon katanya biasanya orang-orang yang datang kesana itu percaya kalo air dari sumur itu sakti, ya bisa bawa tuah katanya. Menurut salah seorang yang ditemui disana, air sumur itu air sumur itu selalu terisi walaupun musim kemarau sekalipun.Sumur Bandung ini tempatnya cukup tinggi dan jalan kesana total harus memanjat dinding batu yang terjal dan licin. Sumur tersebut sebenarnya tidak terlalu besar. Airnya bening dan dingin(menurut prediksi saya karena berda didalam gua). Bagai yang percaya bahwa air di sana membawa tuah, bisa membasih muka, tangan atau kaki dengan air itu (katanya bisa awet muda).

Sumur Bandung

Ki Sunda (Orang yang pernah mendiami daratan sunda
Pada salah satu ruang pada goa pawon, terdapat replika kerangka manusia purba yang pernah menghuni daerah Bandung dan sekitarnya. Masyarakat setempat menyebutnya Ki Sunda tapi saya tak tahu kenapa demikian (?). Namun kondisi replika kerangka cukup menyedihkan karena sudah berlumut. Posisi dari kerangka ini dalam keadaaan menekuk. Dari yang saya ketahui, posisi itu adalah posisi yang sama dengan bayi saat berada didalam rahim ibu. Dan arah hadapnya menunjukkan sesuatu tempat yang dianggap keramat seperti gunung atau laut. (Menurut interpretasi saya, menghadap kearah gunung Sunda pada masa itu). Selain itu, biasanya terdapat bekal kubur (Kalau tidak salah sebagai bekal untuk melanjutkan kehidupan di akhirat ) seperti gerabah, perhiasan yang menyertai kerangka.


Perjalanan berlanjut ke jendela pengintaian. Jendela pengintaian ini pada masa itu berfungsi sebagai tempat mengintai buruan. Di dekat jendela pengintaian terdapat gua. Kata Sri, biasanya digunakan untuk bersemedi bagi penganut kepercayaan. Tapi menurut saya pada zaman itu, mungkin itu sebagai jalan keluar si manusia pawonnya untuk berburu.
Secara keseluruhan keadaan goa pawon sangat menyedihkan, terdapat banyak coretan cat pilox disana sini



sumber : http://ekorisanto.blogspot.com/ (menengok pesona situ ciburuy)
http://portal.sabhawana.com/
http://chezpiere53.wordpress.com/
http://www.bplhdjabar.go.id/
http://www.esdm.go.id/berita/umum/37-umum/2729-mengenal-museum-kars-7-manusia-pawon-di-kawasan-kars-rajamandala-bandung-bagian-barat.html

Thursday, April 29, 2010

Cerita Singkat tentang Gedung "De Driekuer"


Bank BTPN yang dulunya kantor berita Domei
Bangunan karya arsitek Belanda Albert Frederik Aalbers itu dibangun pada akhir dekade 1930. Tujuan pembangunannya untuk kantor sekaligus rumah seorang pengusaha China(menurut http://djawatempodoeloe.multiply.com gedung ini merupakan kediaman Aalbers ) .Pada masa pendudukan Jepang, bangunan itu difungsikan sebagai Kantor Berita Domei. Pada 17 Agustus 1945, Kantor Berita Domei menerima kawat berisi teks proklamasi. Bangunan Drie Kleur menjadi saksi dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan Indonesia di Kota Bandung untuk pertama kalinya. GEDUNG De Drie Kleur (dalam bahasa belanda artinya Tiga Warna kemungkinan warna bendera belanda yaitu merah putih biru ) di sudut Jln. Sultan Agung dengan Jln. Ir. H. Djuanda (Dago) yang kini menjadi kantor Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN).Pada 17 Agustus 1945, Kantor Berita Domei menerima kawat berisi teks proklamasi. Bangunan Drie Kleur menjadi saksi dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan Indonesia di Kota Bandung untuk pertama kalinya. Bangunan ini banyak dipengaruhi oleh aliran Nieuw Bouwen- gaya arsitektur yang berkembang di Hindia Belanda pada akhir tahun 1930-yang memperlihatkan garis-garis stream line. Gaya ini mengutamakan kesederhanan tanpa banyak ornamen dekoratif. Tampak bahwa pengutamaan kesederhanan ini menunjukkan perbedaannya dari gaya art deco, yang menonjolkan unsur dekoratif. Konsep aliran Nieuw Bowen (istilah aliran yang dipakai oleh arsitek Belanda pada akhir 1930an) sangat terasa pada bangunan De DrieKleur yang bergaya bangunan mirip Hotel Savoy Homann. Bangunan Drie Kleur memperlihatkan adanya proses perkembngan gaya Art Deco yang mulai melepaskan unsur-unsur dekoratifnya. Selain itu villa Tiga Warna punya simetri keras tanpa menara. Sebelumnya, bangunan bersejarah ini pernah digunakan sebagai kantor polisi, bahkan pernah juga dijadikan diskotek.

Sumber : http://www.bandungheritage.org/
http://www.pikiranrakyat.com/

Saturday, April 10, 2010

Jam-jam dengan angka Romawi seperti ini IIII

Jam-jam dengan angka Romawi seperti ini IIII

1. Jam Pada Bangunan Bank Mandiri dijalan Asia Afrika




2. Jam Pada Bethel Church di jalan Wastukencana





3. Jam Gadang Pasar Bukittinggi


Jam yang dibangun pada 1926 ini, diarsiteki Yazin dan Sutan Gigi Ameh
ini berdiri megah di pusat Bukittinggi sebagai ikon Sumbar
Sepintas, mungkin tidak ada keanehan pada bangunan jam setinggi 26
meter tersebut. Apalagi jika diperhatikan bentuknya, karena Jam Gadang
hanya berwujud bulat dengan diameter 80 sentimeter, di topang basement
dasar seukuran 13 x 4 meter, ibarat sebuah tugu atau monumen. Oleh
karena ukuran jam yang lain dari kebiasaan ini, maka sangat cocok
dengan sebutan Jam Gadang yang berarti jam besar.

Bahkan tidak ada hal yang aneh ketika melihat angka Romawi di Jam
Gadang. Tapi coba lebih teliti lagi pada angka Romawi keempat.
Terlihat ada sesuatu yang tampaknya menyimpang dari pakem. Mestinya,
menulis angka Romawi empat dengan simbol IV. Tapi di Jam Gadang malah
dibuat menjadi angka satu yang berjajar empat buah (IIII). Penulisan
yang diluar patron angka romawi tersebut hingga saat ini masih
diliputi misteri. Tapi uniknya, keganjilan pada penulisan angka
tersebut malah membuat Jam Gadang menjadi lebih "menantang" dan
menggugah tanda tanya setiap orang yang (kebetulan) mengetahuinya dan
memperhatikannya. Bahkan uniknya lagi, kadang muncul pertanyaan apakah
ini sebuah patron lama dan kuno atau kesalahan serta atau atau yang
lainnya.

Dari beragam informasi ditengah masyarakat, angka empat aneh tersebut
ada yang mengartikan sebagai penunjuk jumlah korban yang menjadi
tumbal ketika pembangunan. Atau ada pula yang mengartikan, empat orang
tukang pekerja bangunan pembuatan Jam Gadang meninggal setelah jam
tersebut selesai. Masuk akal juga, karena jam tersebut diantaranya
dibuat dari bahan semen putih dicampur putih telur. Jika dikaji
apabila terdapat kesalahan membuat angka IV, tentu masih ada
kemungkinan dari deretan daftar misteri. Tapi setidaknya hal ini
tampaknya perlu dikesampingkan. Sebagai jam hadiah dari Ratu Belanda
kepada controleur (sekretaris kota), dan dibuat ahli jam negeri Paman
Sam Amerika, kemungkinan kekeliruan sangat kecil.

Tapi biarkan saja misteri tersebut dengan berbagai kerahasiaannya.
Namun yang patut diketahui lagi, mesin Jam Gadang diyakini juga hanya
ada dua di dunia. Kembarannya tentu saja yang saat ini terpasang di
Big Ben, Inggris. Mesin yang bekerja secara manual tersebut oleh
pembuatnya, Forman (seorang bangsawan terkenal) diberi nama Brixlion.
Sekarang balik lagi ke angka Romawi empat, apakah pembuatan angka
empat yang aneh itu disengaja oleh pembuatnya, juga tidak ada yang
tahu. Tapi yang juga patut dicatat, bahwa Jam Gadang ini peletakan
batu pertamanya dilakukan oleh seorang anak berusia enam tahun, putra
pertama Rook Maker yang menjabat controleur Belanda di Bukittinggi
ketika itu.

Ketika masih dalam masa penjajahan Belanda, bagian puncak Jam Gadang
terpasang dengan megahnya patung seekor ayam jantan. Namun saat
Belanda kalah dan terjadi pergantian kolonialis di Indonesia kepada
Jepang, bagian atas tersebut diganti dengan bentuk klenteng. Lebih
jauh lagi ketika masa kemerdekaan, bagian atas klenteng diturunkan
diganti gaya atap bagonjong rumah adat Minangkabau. Di tengah usia
yang ke 84 tahun, jam yang dibangun dengan biaya 3.000 gulden (saat
itu), saat ini masih berdiri kokoh sebagai ikon pariwisata Sumbar







Alasan penggunaan penulisan angka empat Romawi dengan simbol IIII bukan VI terdapat tiga versi.

  1. Sebuah cerita mengisahkan seorang Clockmaker membuat jam khusus untuk seorang Raja Perancis saat itu yaitu Louis XIV. Saat ditunjukkan jam buatannya tersebut, sang Raja menolak dan meminta agar angka 4 dibuat dalam bentuk IIII dan bukannya IV seperti yang dibuat oleh Clockmaker itu. Walaupun sudah dijelaskan kebenarannya, sang raja tetap bersikeras agar bentuk diganti dengan IIII. Akhirnya Clockmaker menyetujui dan sejak saat itu hampir semua jam menerapkan bentuk IIII daripada IV untuk penunjuk jam 4.
  2. Penjelasan lebih logis adalah berdasarkan dari sisi estetika. Sebuah jam dengan penunjuk angka Romawi akan terdiri dari bentuk I, V dan X yang tersebar. Apabila angka 4 dibuat dengan bentuk IV, akan terjadi 'ketidak-seimbangan' dari sisi estetika antara bagian kiri dial dan kanan dial. Bentuk VIII pada sisi kiri berhadapan dengan bentuk IV pada sisi kanan. Bentuk VIII dirasakan 'lebih berat' daripada bentuk IV, dan agar terjadi keseimbangan maka bentuk IV diganti dengan IIII.
  3. Alasan lain penggunaan IIII dipilih daripada bentuk IV adalah dari sisi pemaknaan. Dalam Bahasa latin penggunaan bentuk IV tidak digunakan karena simbol IV merujuk pada salah satu Dewa orang Romawi yaitu Jupiter yang sering disingkat sebagai JU. Huruf J pada Bahasa Latin ditunjukkan dengan bentuk I sedangkan huruf U ditunjukkan dengan bentuk V, karena itu IV sama dengan makna JU yang berarti Jupiter. Karena itu sangat dihindari penulisan IV di tempat-tempat umum yang dianggap 'tidak terhormat'



Referensi :
http://jamkuno.blogspot.com/2009/08/why-iiii-instead-of-iv.html
Padang Ekspres ONLINE, Kamis, 13-Desember-2007

Friday, March 26, 2010

sejarah sepanjang rel kereta Bandung Ciwidey

Minggu 7 Maret 2010

Jejak-jejak perkertaapian disekitar soreang-ciwidey memang tak begitu jelas, jika hanya dilihat dengan sekilas pandang dari tepi jalan raya Soreang-Ciwidey. Dari keseluruhan jalur ini masih terbilang jalur yang cukup utuh dan nyaris tak terjamah tangan jahil manusia. Bahkan disalah satu jembatannya yaitu jembatan Ciantik pernah dijadikann lokasi shooting film perang produksi Belanda yang berjudul Oeroeg pada tahun 1997 yang diadaptasi dari novel yang berjudul "Oeroeg" karangan Helena Sefaria Haass.
Berdasarkan catatan jalur kerat api Bandung - Ciwidey mulai beroperasi pada tahun1923. Jalur ini merupakan jalur kereta api pertama di daerah Bandung Selatan. Jalur kereta api ini dimulai dari Satsiun Cikup=dapateuh, Pasar kordon Buahbatu, Pamengpeuk, Banjaran, Soreang dan berakhir di stasiun Cimuncung Ciwidey.
Menurut Kuncen Bandoeng, Bapak Haryoto Kunto dalam bukunya Bandoeng Tempo Doeloe. Ada dua tahap pembangunan jalur ini. Tahap pertama tahun 1918 pembangunan jalur Bandung-Kopo dan tahun 1921 jalur ini di teruskan ke Ciwidey oleh Staats Spoorwegen / SS (Perusahaan Kereta Api Negara). Pembangunan jalur kereta api bandung Ciwidey ini diperuntukkan untuk:
1. Alat angkut hasil produksi perkebunan wilayah Priangan yang kala itu menjadi komoditi ekspor yang laku keras di pasar dunia.
2. Sarana pendukung dalam pemekaran Gemeente Bandung tahun 1919. Sarana pemerkaran yang dimaksud adalah untuk mengankut kayu-kayu dari daerah Ciwidey (yang pada saat itu kebanyakan masih hutan untuk pembangunan Gemeente/ kota).
Pada masa-masa awal kemerdekaan hingga tahun 1970-an awal, jalur Bandung Ciwidey menjadi akses utama kecamatan Ciwidey langsung menuju pusat aktivitas perekonomian di Bandung. Masyarakat memanfaatkan jasa angkutan ini sebgai sarana pengiriman barang kebutuhan sehari-hari. Selain itu masyarakat Ciwidey memanfaatkan jalur ini sebagai sarana untuk berpergian ke Bandung dan mencari pekerjaan sebagai buruh harian pada musim kemarau. Ada hal yang lebih menarik bagi warga Desa Citeurep, adanya kereta api ini juga menjadi penanda waktu imsak karena belum memiliki pengeras suara. Ini dikarenakan saat stasiun cimuncung masih aktif kereta pertama berangkat menuju Bandung pukul 04.00 dan kereta terakhr pukul 18.00.
Akhir dari perjalanan kereta api Bandung-Ciwidey ini ditandai dengan sebuah kecelakaan rangkain yang ditarik lokomotif seri BB di kampung Cukanghaur kecamatan Pasir Jambu yang mengakibatkan tiga orang tewas pada bulan Juli 1972. Menurut sejumlah mantan karyawan Perusahaan Jawatan Kereta Api yang bertugas dijalur ini, kecelakaaan tersebut diakibatkan kelebihan beban saat mengangkut kayu untuk dikirm ke Jakarta. Selain alasan itu, jalur Bandung-Ciwidey ini dirasa kurang menguntungkan kendaraan bermotor sehingga pada tahun 1975 jalur ini resmi ditutup.
Setelah 35 tahun jalur ini dinonaktifkan, banyak perubahan yang terjadi disekitar jalur ini. Jalur ini menjadi saksi pertumbuhan jumlah penduduk di daerah sekitar Soreang-Ciwidey pada khusunya. Beberapa bagian rel telah berubah fungsi menjadi bagian pagar rumah penduduk, stasion beralih fungsi menjadi warnet dan jembatan serta rel kereta api digunakan sebagai jalur pejalan kaki.


Referensi :
- Bnadung Ciwidey Dalam Kenangan tanggal artikel 22 Januari 2010 [http://bataviase.co.id/detailberita-10550750.html]
- Stasiun Banjaran tanggal artikel 13 Agustus 2008 http://fauzan.persib.net/2008/08/13/stasiun-banjaran/