Showing posts with label coretan hani. Show all posts
Showing posts with label coretan hani. Show all posts

Sunday, September 8, 2013

Kembali Menulis

Sudah lama rasanya saya tidak meninggalkan jejak coretan saya dalam blog ini. Melihat terakhir postingan terakhir saya dalam blog ini April 2012. Berarti blog ini sudah lebih dari setahun tidak saya urus. Namun, bukan berarti dalam setahun saya tidak menulis sama sekali. Yang terjadi adalah saya terdistraksi dalam banyak hal. Inilah penyebab saya jarang menulis dalam blog, diari ataupun note. Terlalu banyak ide tulisan bermunculan dalam pikiran namun tak satupun yang menjadi sebuah tulisan utuh. Semua masih dalam bentuk poin-poin garis besar yang akhirnya menumpuk jadi coretan yang tak berbentuk dan ujung-ujungnya tidak memilki nilai manfaat baik bagi saya maupun orang lain.

Saya akui, menulis sesuatu sering sekali dilakukan namun bukanlah kegiatan yang mudah untuk dibiasakan. Sering dilakukan karena setiap hari kita selalu menulis baik menulis update-an dalam sosial media, menulis sms, email, catatan kuliah, catatan harian, note maupun reminder kegiatan. Dari sekaian banyak orang menulis, hanya segelintir orang yang membiasakan dirinya menulis bukan hanya untuk dirinya dan masa sekarang tapi untuk orang lain dan generasi selanjutnya.
Bahagia orang yang telah belajar menulis. Karena seorang penulis Indonesia yang terkenal dengan bukunya tetralogi Pulau Buru, Pramoedya Ananta Toer pernah berkata menulis merupakan pekerjaan menuju keabadian. Dalam salah satu seri tetralogi Pulau Buru, Anak Semua Bangsa, Pram seolah menjelma menjadi sosok Mama yang sedang memberikan nasehat pada Minke __kata-kata tersebut yang saya merupakan postingan terakhir saya dalam blog ini April 2012__ "Kau, Nak, paling sedikit harus bisa teriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari". Pernyataan Pram ini ditegaskan oleh adiknya, Sorsila Toer pendiri perpustakaan PATABA (Pramoedya  Ananta Toer Anak Semua Bangsa) dalam website : patabamembangun.blogspot.com "Bacalah kau akan tahu dunia dan isinya. Tulislah, kau akan dikenang sepanjang masa". Bagi saya pribadi, tujuan menulis sendiri adalah berbagi apa saja tentang pemikiran saya, pengetahuan, fenomena yang saya saksikan beserta  pendapat saya, ataupun hal-hal kecil yang luput dari perhatian orang banyak, namun hal yang menarik menurut saya. Semoga semangat berbagi saya dalam bentuk tulisan ini tidak luntur hanya karena rasa malas dan tidak bisa mengatur waktu yang telah disediakan Sang Pencipta.

Friday, February 17, 2012

Acak Kadut Publikasi Maya


Sedikit sharing tentang keluhan mungkin sebagian kecil pengguna social network  dan pemikiran saya tentang publikasi maya

"Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI),Pub·li·ka·si n 1 pengumuman; 2 penerbitan. Sehingga umum dapat disimpulkan bahwa publiasi adalah kegiatan memberitahukan/ mengumumkan suatu kegiatan, event, kampaye, ataupun produk kepada masyarakat luas dengan tujuan tertentu."

Sebelum internet merambah keseluruh pelosok, publiasi biasanya dilakukan dengan cara penempelan pada papan pengumuman, pembagian flayer, bosur,atau pamphlet, poster, dan media massa. Untuk publikasi menggunakan media massa biasanya dikenakan tarif tertentu berdasarkan iklan yang akan ditayangkan, durasi serta pertimbangan lain. Publikasi ini terasa memberatkan disebabkan karena harus mengeluarkan ongkos tambahan.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga mempengaruhi cara orang dalam mempublikasikan sesuatu event, kampaye, atau pun produk dagangan. Banyaknya jaringan pertemanan seperti Facebook, Twitter, Koprol, Blog dan sebagainya, memudah dalam mempublikasikan sesuatu.

Contoh keluhan salah satu pengguna Facebook
Contoh mudah, dalam penggunaan Facebook, publikasi dilakukan dengan berbagai cara seperti update status, upload foto dan tag foto, menggunakan akun FB khusus ataupun menciptakan group serta fan page. Pada awalnya cara ini cukup efektif karena updatean informasi diterima secara cepat namun kelama- lamaan hal ini mengganggu kenyamanan dalam menggunakan social networking. Update-update yang berisi promosi dan publikasi ini terkadang memenuhi home pengguna social networking sehingga update-an penting tertutup dengan updatean publikasi. Banyak pengguna social networking yang mulai mengeluh.

Selain itu, publikasi dalam bentuk taggin foto juga terasa mulai mengganggu. Mulai dengan meng-tag barang-barang yang dijual dionline shop hingga publikasi acara yang acak-kadut menghiasi foto-foto, wall, atau status kita.

Benar adanya publikasi melalui media maya sekarang sedang booming dan efektif-efektifnya. Namun ada yang dilupakan oleh orang yang menerbitkan publikasi maya. Jika suatu event telah dilaksanakan atau barang dionline shop telah sold out, dimohon untuk membersihkan publikasi dan promo yang telah dibuat. Maksud membersihkan disini mengromove tag foto yang berisi event atau sale yang telah dipromosikan. Jangan sampai kita mengurangi sampah dalam kehidupan nyata tapi membuat sampah baru dalam didunia maya. Mungkin sebagian orang tidak terlalu memperdulikan hal ini, namun ada sebagian lain yang terganggu dengan publikasi semacam ini. Ingat hal yang kita lakukan menyangkut dengan orang  lain juga.


Salah satu publikasi kadarluarsa
Maaf jika tulisan ini menyinggung beberapa pihak yang memiliki kepentingan dengan publikasi di dunia maya. 

Wednesday, December 7, 2011

Imajinasi saat kuliah Hukum Lingkungan


23 Agustus 2011

Setengah mengantuk mengikuti kuliah "Hukum Lingkungan" yang diajarkan oleh bapak Sutan Adjamsjah yang diadakan pada pukul 16.00-18.00. Saat beliau menerangkan slide mengenai 'Ekologi dan Teknis Berproduksi dari Lingkungan Hidup' khususnya tentang penjelasan tentang teknis ekstratif adalah masa dimana saya sangat tidak konsentrasi dan mengantuk. Namun ada beberapa hal yang menarik dari ocehan beliau.

"Teknis ekstraktif adalah suatu proses mengambil sesuatu dari alam untuk memenuhi kebutuhan manusia" setidaknya itulah yang saya tangkap dari penjelasan beliau.
Menurut http://www.kamusbesar.com/9985/ekstraktif kata ekstraktif tergolong kepada kelompok adjektiva yang berarti bersifat ekstraksi.

Otak saya mulai kembali bekerja saat beliau memberikan  contoh akibat teknis ekstraktif pada penambangan terbuka yang terjadi di Tembagapura (FreeFort) yang dampaknya tidak terlalu kentara karena merupakan daerah kosong (tidak terdapat permukiman) dan penambangan timah di Bangka Belitung yag meninggalkan lubang galian besar.

Imajinasi saya membawa melihat suatu contoh kasus yang terjadi di daerah yang pernah saya kunjungi 5 tahun yang lalu. Tepatnya didaerah Sawahlunto.
Kota Sawahlunto terkenal dengan julukkan kota mutiara hitam, kota arang,dan kota tambang. Julukkan tersebut emang pantas diberikan karena sebagian besar matapencarian penduduknya ditopang dari sektor pertambangan khususnya batubara. Sawahlunto pernah menjadi pengahsil batubara terbesar di Indonesia. Sejarah berdiriannya pertambangan batubara dikota ini dimulai sejak ditemukannya cadangan batu bara di kota ini oleh seorang geolog Belanda bernama Ir. William Hendrik De Greve pada tahun 1867 yang diperkirakan depositnya 200 juta ton. Dengan potensi tersebut, 1 Desember 1888 pemerintah Hindia-Belanda mulai melakukan investasi sebesar 5.5 juta gulden untuk membangun berbagai fasilitas pengusahaan tambang batubara, dalam memenuhi kebutuhan industri dan transportasi masa itu. Dan kemudian peristiwa ini diabadikan sebagai Hari Jadi Kota Sawahlunto. Tahun 1982 merupakan awal produksi batubara dari kota ini dan dimulai  kawasan ini menjadi pemukiman pekerja tambang, dan berkembang menjadi sebuah kota kecil dengan penduduk yang intinya adalah pegawai dan pekerja tambang.

Untuk memudahkan pengangkutan batubara, pemerintah Hindia-Belanda membangun jalur kereta api yang menghabiskan dana sebesar 17 juta gulden, menghubungkan kota Sawahlunto dan kota Padang (1894).

Sebelum menjadi daerah pertambangan, Sawahlunto merupakan kamp tahanan. Sehingga hingga tahun 1898, penambangan dilakukan oleh orang rantai (narapidana yang dipaksa bekerja untuk menambang dengan  upah yang murah). Tahun 1908 untuk upah buruh paksa adalah sebesar 18 sen/hari dan setiap pembangkangan dikenakan sangsi hukum cambuk. Untuk buruh kontrak mendapatkan bayar sebesarr 32 sen/hari dan mendapatkan fasilitas tempat tinggal serta jaminan kesehatan. Sedangkan untuk buruh bebas upahnya sebesar 62 sen/hari tanpa mendapat fasilitas apapun.

Tahun 1918 kota Sawahlunto telah dikategorikan sebagai Gemeentelijk Ressort atau Gemeentedengan luas wilayah 778 Ha, atas keberhasilan kegiatan pertambangannya. Adanya  kereta api telah mendorong produksi pertambangan batubara memberikan hasil yang positif, dimana pada tahun 1920 produksi batu bara dari hanya puluhan ribu ton menjadi ratusan ribu ton per tahun, dari usaha yang rugi menjadi usaha dengan laba besar sampai 4,6 juta gulden dalam setahun.
Setelah kemerdekaan Indonesia, selanjutnya hak penambangan dikelola oleh negara dan diberikan kepada PT Tambang Batubara Ombilin (TBO), namun kemudian perusahaan ini dilikuidasi menjadi anak perusahan dari PT. Bukit Asam yang terdapat di Sumatera Selatan. Dan seiring dengan reformasi pemerintahan dan bergulir otonomi daerah, masyarakat setempat pun menuntut untuk dapat melakukan penambangan sendiri.

Dari sekian banyak perusahaan yang melakukan operasi penambangan, yang menarik perhatian saya adalah kasus PT. PAMA Persada Nusantara.
Sekitar tahun 2003, kedalaman eksploitasi melalui tambang terbuka yang dilakukan perusahaan tambang ini mencapai kedalaman 175 meter dikaki bukit Tanah Hitam.Tak jauh dari lokasi penam­bangan tersebut, terdapat aliran Sungai Batang Ombilin yang berasal dari Danau Singkarak yang bermuara dipantai timur Sumatera. Aktifitas penambangan ini bergerak terus menuju dinding pembatas antara kawasan tambang dan sungai. Denga keadaan dinding penahan yang rapuh menyebabkan aliran Batang Ombilin dapat menjebol dinding pembatas.Tanggal 25 April 2003 dalam waktu  kurang dari setengah hari, seluruh kawasan pertambangan milik PT. PAMA Persada Nusantara berubah menjadi danau, menenggelamkan puluhan orang pekerja tambang, serta menyebabkan aliran sungai Batang Ombilin kering selama 3 jam. Danau yang terbentuk tak sengaja ini oleh masyarakat setempat diberi nama Danau Kandih.

Sejak kejadian itu, pemerintah Sawahlunto mengalihfungsikan kawasan tersebut menjadi arena rekreasi air di Sawahlunto.Di area Kandih dapat ditemukan berbagai atraksi olah raga air. Masih kawasan sekitar danau Kandih, pemerintah Sawahlunto juga membangun sebuah kebun binatang tematik.Selain itu, Danau Kandih juga dijadikan kawasan perikanan tambak. Namun dalam beberapa tahun kedepan, nama Danau Kandih Sawahlunto akan segera terhapus dari daftar salah satu objek wisata di ‘Kota Arang’ tersebut. Hal ini dikarenakan, danau yang terbentuk akibat kecelakaan alias jebolnya aliran Batang Ombilin itu akan segera ditimbun karena dinilai tidak lagi efektif sebagai objek wisata maupun lokasi perikanan. Rencana penimbunan tersebut dikarenakan kecenderungan danau yang semakin mendangkal dari waktu ke waktu. Dari awalnya memiliki kedalaman 80 meter hingga mencapai 175 meter, sekarang danau ini hanya memiliki kedalaman 15 meter hingga 45 meter. Pendangkalan terjadi akibat sedimen berupa lumpur dari pengikisan tebing yang ada di arel Kandi serta endapan an-organik dari aliran sungai Ombilin, yang juga bisa mencemari lingkungan hidup dikawasan itu.Sedimentasi pada dasar danau membentuk lumpur hisap yang sangat berbahaya jika digunakan sebagai lokasi wisata.
Selain itu, danau kandih juga memiliki zat asam yang tinggi yang menyebabkan kematian pada tambak. Semoga saja penimbunan danau Kandih menjadi solusi terbaik untuk dampak pertambangan terbuka di kota Sawahlunto



Thursday, August 11, 2011

Lost in Yogyakarta[Part I]: Say Hello Yogyakarta



Pulang ke kotamu, ada setagkup haru dalam rindu 

Masih seperti dulu 
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna 
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu 
Nikmati bersama suasana Jogja [Yogyakarta__Kla Project]

3 Juni 2011
Secara random saya, Dhika, dan Mahdi memutuskan untuk liburan ke kota Yogyakarta setelah rencana awal liburan sambil survey ke penangkaran penyu di pantai Pangumbahan Ujung Genteng gagal total.

Sekitar pukul 13.00 setelah sholat jumat, saya dan Dhika pergi ke Stasiun Bandung mencari tiket kereta ekonomi yang berujung dengan tidak ada tiket kereta api kelas ekonomi yang di jual untuk keberangkatan malam. Informasi dari loket penjualan tiket kereta yang ada di Stasiun Bandung, untuk ke berangkatan malam biasanya dijual di Stasiun Kiaracondong. Dengan langkah cepat, saya dan Dhika bergegas ke Stasiun Kiaracondong untuk membeli tiket kereta ekonomi. Namun, dikarenakan alasan tidak tahu angkot menuju Stasiun Kiaraconodng dari Stasiun Bandung dan menghemat waktu, kita menaiki kereta api jurusan Bandung-Cicalengka (sayangnya bukti tiketnya diambil lagi oleh pihak stasiun Kiaracondong).

Setibanya di stasiun Kiaracondong, kami langsung membeli tiket kereta api ekonomi “Kahuripan” dengan rute Padalarang (Jawa Barat) – Kediri (Jawa Timur) tanpa tempat duduk seharga Rp. 24.000 pertiket. Yang merupakan pertanda selama perjalanan kemungkinan besar kami akan berdiri non stop. Sedikit menghibur dan membisikkan dalam hati ”Palingan, entar ada yang berhenti dijalan trus tempat duduknya bisa diambil”
******
Setelah sholat Magrib, saya, Dhika Permana Amri dan Mahdi badari janjian ketemu di depan atm gallery Pasar Simpang Dago. Lalu menaikin angkot (Riung-Dago) menuju stasiun Kiaracondong. Stasiun Kiaracondong merupakan stasiun besar kedua di Kota Bandung setelah stasiun Bandung. Stasiun ini terletak di batas antara Kelurahan Babakansari dan Kelurahan Kebunjayanti, dan hanya melayani keberangkatan kereta api kelas ekonomi
Kereta api “Kahuripan”, itulah nama kereta yang kami naiki dengan rute perjalanan Padalarang, Kiaracondong, Rancaekek,Cicalengka, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Sidareja, Maos, Kroya, Gombong, Kebumen, Kutoarjo, Wates, Lempuyangan, Kalten, Solojebres, Sragen, Walikukun, Madiun, Ngajuk, Kertosono, Kediri. Kereta api kahuripan terdiri atas 7 gerbong Kereta Kelas Ekonomi + 1 gerbong Kereta Makan dengan kode seri lokomotif CC. 201. Jumlah tempat duduk yang disediakan kereta ini sekitar untuk 742 orang dan toleransi kapasitas angkut 1.113 orang.
Nama Kahuripan sendiri berasal dari nama sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1009 sebagai kelanjutan Kerajaan Medang yang runtuh tahun 1006. Dan merupakan awal mula bedirinya kerajaan Kediri. Kerajaan Kahuripan berakhir dengan masalah perebutan tahta kerajaan. Ketika calon raja yang sebenarnya, Sanggramawijaya Tunggadewi memeutuskan menjadi pertapa. Akhir November 1042, Airlangga membagai kerajaan menjadi dua bagian. Bagian barat bernama Kadiri dengan ibukota Daha yang dipimpin oleh putranya yang bernama Sri Samarawijaya dan bagian timur bernama Janggala beribukotaka Kahuripan yang diserahkan kepada Mapanji Garasakan. Itulah akhir dari kerajaan Kahuripan yang melahirkan dua kerajaan baru.
Kereta api “ Kahuripan” termasuk kereta api yang paling banyak mengalami perubahan rute. Pada awalnya, Kereta Api ini melayani rute Kediri-Bandung-Pasar Senen, namun sejak 26 Juli 1995 rutenya dipotong sehingga hanya melayani rute Kediri-Bandung. Seiring dengan beralihnya pelayanan KA ekonomi dari Bandung ke Kiaracondong, kemudian rutenya berubah lagi menjadi Kediri-Kiaracondong. Kemudian rute KA ekonomi “Kahuripan” diperpanjang sedikit ke arah barat menjadi Kediri-Padalarang.




Friday, February 18, 2011

Journey of the Tahura Juanda






17 Juli 2010


Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 7.00, dengan malasnya saya berjalan menuju kamar mandi... Hal yang paling malas untuk dilakukan dipagi hari... Hari ini saya ada janji untuk survey wilayahTaman Hutan Raya Juanda dengan anak-anak WAW (Wildlife and Animal Welfare) UGREEN. Tapi yang konfirm bisa ikut Cuma dikit hiks... hiks... sedih. Akhirnya team survey berkumpul yang terdiri atas saya, Odit dan Fiko di Mc D Simpang Dago. Sedangkan Dhika menunggu di pintu gerbang Tahuranya karena rumahnya di depan pintu masuk Tahura. Jalan menunju pintu masuk tahura melalui rute pejalan kaki menanjak. Aroma menyegarkan bungasari pinus meksiko (Pinus montecumae) dan suara sayup – sayup prenjak jawa (Prinia Flaviventris) berkicauan akan ditemui di Tahura ( Taman Hutan Raya) Ir H Juanda, Lembang, Bandung. Tempat ini “surga” bagi yang hobi petualangan, tracking, botanikus, dan geologis. Kawasan seluas 526,98 hektar ini bukan hanya tempat konservasi flora dan fauna, tetapi juga arkeologi dan prasejarah. Terdapat museum berisi artefak, seperti kapak batu dan mata panah. Tahura diresmikan tanggal 14 Januari 1985 oleh Presiden Soeharto. Fungsi Tahura lainnya untuk penyangga resapan air. Daerah yang memiliki topografi bergelombang ringan, agak curam dan terjal yang terletak di ketinggian 700 – 1300 meter dari permukaan laut ini merupakan ekosistem dari berbagai flora dan fauna, baik yang endemis maupun yang tidak. Tahura Ir. H Juanda memilik tipe iklim B dengan curah hujan rata-rata 2.500-4.500 mm per tahun. Suhu udara berkisar antara 22°C-24°C. Wilayah Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda memiliki tipe vegetasi hutan alam sekunder yang didominasi oleh jenis pohon Pinus (Pinus merkusii), Kaliandra (Calliandra callothyrsus), Bambu (Bambusa sp.) dan berbagai jenis tumbuhan bawah seperti tumbuhan Teklan (Euphatorium sp.). Fauna yang terdapat di dalam kawasan taman hutan raya ini antara lain Musang (Paradoxurus herma paproditus), Tupai (Callosciurus notatus), Kera (Macaca insularis) serta berbagai jenis burung seperti Kepondang (Oriolus chinensis), Kutilang (Pycnontus caferaurigaster) dan Ayam hutan (Gallus gallus bankiva). Berdasarkan hasil inventarisasi tahun 2003 tercatat sedikitnya sembilan fauna khas di tempat ini, antara lain burung kacamata (Zosterops palpebrosus) dan bondol jawa (Lonchura leucogastroides).Sebanyak 112 spesies tanaman dari 40 famili juga ditemukan disini. Di Tahura terdapat goa Jepang yang luasnya 350 meter persegi dan memiliki empat pintu dan tiga lorong. Goa yang dibangun tahun 1942 merupakan tempat persembunyian tentara Jepang dari Sekutu. Sekitar 300 meter timur laut dari Goa Jepang terdapat goa Belanda yang dibangun tahun 1941. Dahulu dipergunakan sebagai terowongan PLTA bengkok. Karena perbukitan Pakar merupakan kawasan yang sangat menarik bagi strategi militer Belanda(hal in dikarena lokasinya yang terlindung dan begitu dekat dengan pusat kota Bandung), maka menjelang perang dunia II pada awal 1941 Militer Hindia Belanda membangun stasiun Radio Telekomunikas. Bangunan ini berupa jaringan Goa di dalam perbukitan batu pasir tufaan Hanya dengan tiket Rp.8000 per orang, anda bisa menikmati petualangan tracking ria sambil menikmati panorama alam di sekitar Tahura Ir H Djuanda.Jaraknya sekitar 6 kilometer dari Dago Pakar sampai Maribaya. Di sepanjang jalan rute jogging track tersebut akan ditemui kicau jalak suren (Sturnus Contra) atau perkutut (Geopelia Striata). Kadang – kadang terdengar gonggongan anjing kampung menyalaki kera – kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang memunguti remah – remah makanan pengunjung. Di Maribaya nanti akan ditemui Curug Omas, air terjun yang sangat indah pemandangannya. Macaca Fascicular si ekor panjang yang eksotis Sepanjang perjalanan dari pintu masuk II menuju Maribaya pos VI, jika jeli mengamati sekitar banyak kera ekor panjang (Macaca Fascicular). M. fascicularis merupakan salah satu satwa liar yang statusnya hingga saat ini masih belum terdaftar sebagai spesies yang dilindungi. Namun demikian usaha-usaha untuk menjaga populasinya di alam harus tetap dilakukan. Karena tekanan terhadap populasi kera ini kian hari kian menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan dan terus mengalami penurunan. Penyebaran populasinya M. fascicularis banyak terdapat di kawasan Asia Tenggara, mulai dari Myanmar, Indochina, Malaysia dan Indonesia. Bahkan juga ditemukan di pulau Timor. Penyebarannya di Indonesia mencakup sebagian besar wilayah Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara sampai Flores. Panjang tubuh kera dewasa sekitar 40-50 cm belum termasuk ekor dengan berat 3 -7 kg. Sementara panjang ekor 1 hingga 1,5 kali panjang tubuh berikut kepala dengan warna coklat keabu-abuan atau kemerah-merahan. Bulunya berwarna coklat abu-abu hingga coklat kemerahan sedangkan wajahnya berwarna abu-abu kecoklatan dengan jambang di pipi berwarna abu-abu, terkadang terdapat jambul di atas kepala. Hidungnya datar dengan ujung hidung menyempit. Kera ini memiliki gigi seri berbentuk sekop, gigi taring dan geraham untuk mengunyah makanan Kera ini merupakan jenis satwa yang hidup berkelompok, dimana bisa mencapai hingga 30 ekor dalam tiap kelompok. Biasanya dalam setiap kelompok ada seekor adult male (jantan dewasa) yang menjadi pemimpin dan mendominasi anggota yang lain. Hirarki dalam komunitasnya ditentukan oleh beberapa faktor seperti usia, ukuran tubuh dan keahlian berkelahi. Mereka memasuki masa kawin pada umur enam tahun untuk pejantan dan empat tahun untuk betina. Jangan harap ada kesetiaan dalam komunitas ini. Karena pejantan biasanya kawin dengan banyak betina. Sebagai golongan omnivora yang memakan daging dan tumbuhan. Makanannya bervariasi dari buah-buahan, daun, bunga, jamur, serangga, siput, rumput muda, dan lain sebagainya. Bahkan kera ini kerap pula memakan kepiting. Tetapi, 96 % konsumsi makanan mereka adalah buah-buahan.
Setelah istirahat di curug omas... melanjutkan perjalanan menuju pintu IV Maribaya..
Dijalan dikejar tukang ojek dan ketemu 2 ekor anak ular yang lagi maen-maen
Selanjutnya perjalanan berlanjut ke lembang untuk balik ke bandung
Sumber












Ayo hitung berapa umur pohonnya?





















Monyet ekor panjang


Saturday, August 28, 2010

Kisah Cinta Bintang pada Sang Bulan

25 Agustus 2010

Entah kenapa belakangan ini aku suka memperhatikan keadaan langit malam. Purnama bersinar teduh dibalik sekelebat awan putih. Sang Rembulan sendirian menemani dalam damainya malam. Bukankah biasanya Rembulan selalu ditemani oleh bintang. Kemanakah gerangan bintang? Bukankah BULAN dan BINTANG adalah sahabat sejati???

Ini adalah kisah tentang cina bintang pada Sang Bulan

Kisah Cinta Bintang pada Sang Bulan.

KENAPA bulan dan matahari tak dapat bertemu?Sedangkan BULAN dan BINTANG adalah sahabat sejati???

Suatu hari pernah Bulan mendengar sebuah bintang berbicara pada bulan “Aku tidak ingin lagi menemanimu mulai malam ini dan seterusnya” katanya.“Kenapa?” tanya bulan“Padahal aku menyukaimu, aku menyukai malam-malam dimana kau ada dan menemani ku hingga fajar menjelang” tetapi bintang itu hanya diam meredup dan bersembunyi di balik mega. Justeru karena bulan menyukainya maka bintang itu menghilang.Cinta memang aneh, bukankah ia seharusnya mempersatukan?Bintang itu mencintai bulan.Tetapi bulan tidak mencintainya, ia hanya ‘ menyukainya’.Siapakah yang membeda-beda kan cinta dengan suka?Kenapa bulan tidak membencinya saja, malah bulan menyukainya sehingga bintang tidak mempunyai alasan untuk tidak menemaninya malam nanti.

Bukankah bintang seperti api panas,berkobar dan memberikan sinar?Namun Bintang yang mencintai sang Bulan ini hanyalah sebuah bintang kecil yang berwarna merah. Karena itu ia tak pernah dapat mengumpulkan keberanian untuk berkata pada bulan“ Aku mencintaimu!”.Bulan sendiri tidak pernah menganggap bintang sebagai lebih dari sahabat yang selalu menemaninya setiap malam, dan sesungguhnya bintang mengetahuinya.

“Aku mencintai matahari” kata bulan”Ia dapat membuatku bersinar indah diwaktu malam.Ia membuatku selalu ditunggu oleh para pencinta malam. Ia membuatku selalu dinanti oleh para pujangga yang yang menulis berbait-bait puisi tentang cintahanya dengan melihat diriku di langit malam.

Bintang tak pernah habis berfikir kenapa bulan mencintai matahari, bulan bahkan hampir tak pernah bertemu dengan matahari dan ketika mereka bertemupun bulan akan kehilangan sinarnya.Kita menyebutnya gerhana matahari,Matahari tidak pernah memikirkan bulan, ia hanya bersinar dan memberikan sinarnya tanpa membeda-bedakan.Ia bahkan tidak mengetahui kalau sinarnya dimanfaatkan oleh bulan untuk bersinar dimalam hari. Ia hanya menganggap bulan sebagai benda yang kadang-kadang menghalanginya memberi sinar kepada bumi.

Atau Mungkinkah matahari mencintai bumi,??Misteri

Bintang merasa tidak mendapatkan keadilan. Kenapa bulan mencintai matahari yang bahkan tidak pernah memikirkan bulan, dan bukan mencintai bintang yang mencintai bulan dengan sepenuh hatinya? Bintang juga merasa tak berdaya karena walaupun ia ingin memberikan seluruh sinarnya kepada bulan agar selalu kilau kemilau, bintang tak dapat melakukannya karena jaraknya yang sangat jauh.

Matahari juga adalah bintang, bintang merah yang sama seperti dirinya, karena letak nyalah matahari dapat terlihat lebih terang daripada bintang.Tapi bintang adalah bukan matahari, karena itu bulan tidak mencintai bintang.

Cinta memang aneh. Karena itu sekali lagi bintang berkata, kali ini kepada semua teman- temannya“Aku tidak ingin lagi menemani bulan mulai malam ini” kemudian ia menghilang (tak hanya meredup danbersembunyi di balik mega) dan tak pernah lagi menemani bulan.

Ku beritahu sebuah rahasia, sekarang Bintang itu turun ke bumi sebagai Bintang jatuh memberi harapan bagi permintaan sepasang kekasih agar mereka berdua dapat hidup berbahagia hingga akhir hayatnya.

Walaupun dia tak mendapatkan cinta sang Bulan,ia dapat menjadi berarti bagi sepasang kekasih menjadikan kisah mereka indah.

ini kutipan dari :http://www.ciungtips.co.cc/2010/06/kisah-cinta-bintang-pada-sang-bulan.html

Tuesday, July 20, 2010

Bosscha, Perjalanan Mengapai Mimpi


Bosscha adalah impian setiap anak yang pernah menyaksikan film Petualangan Sherina termasuk saya. Untuk mewujudkan impian itu, maka Sabtu 25 Oktober 2008 saya dan kelima temannya lainnya mengadakan kunjungan ke Bosscha. Perjalanan itu kami mulai dari gerbang utara ITB yang penuh sesak. Kebetulan hari kunjungan kami itu bertepatan dengan hari wisuda. Dari gerbang tersebut kami menaiki angkot Kelapa- Ledeng. Akan tetapi, untuk mencapai Lembang tidak cukup hanya menaiki satu angkot saja. Kami harun turun dan berganti angkot St Hall- Lembang dan melewati dua universitas yang cukup terkenal di Bandung yaitu UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) dan Universitas Pasundan tepat kakak sepupu saya bersekolah.

Memasuki daerah Lembang, udara dingin menyambut kehadiran kami. Walaupun semua kaca angkot telah tertutup rapat dan kami memakai jaket, tapi kami masih tetap kedinginan. Itu tidak mematahkan semangat kami untuk pergi ke Bosscha. Di persimpangan supir angkot menurunkan kami. Menurut informasinya, kami harus melanjutkan perjalanan kami mendaki bukit. Didepan gerbang pertama sekawanan tukang ojek berkumpul dan siap mengantarkan kami menuju Bosscha. Namun, kami memilih untuk berjalan kaki.

Ini perjalanan yang cukup melelahkan karena jarak dari pintu gerbang pertama ke kawasan observatorium adalah 800 m. Pengunjung dapat berjalan kaki (mendaki) ke observatorium yang dapat ditempuh dalam waktu 15-20 menit. Kelelahan itu dapat terobati karena dari sana kami dapat melihat pemandangan daerah Lembang yang indah.

Obsevatorium Bosscha (dahulu dikenal sebagai Bosscha Sterrewacht) adalah salah satu observatorium penting di belahan bumi Selatan. Observatorium Bosscha dibangun oleh NISV (Nedelandsch-Indiesche Sterrenkundige Vereeniging) atau Perhimpunan Bintang Hindia-Belanda. Pembangunan observatorium ini berlangsung tahun 1923-1928. Nama Observatorium Bosscha ini diambil dari nama sponsor utamanya yaitu Karel Albert Rudolf Bosscha (1865-1928), seorang tuan tanah yang memiliki perkebunan teh di daerah Malabar. Tahun 1928, teleskop refraktor Ganda Zeiss datang dan mulai menghuni Bosscha. Teleskop Zeiss adalah teleskop terbesar di obsevatorium ini dn merupakan salah satu seting saat proses syuting Petualangan Sherina. Teleskop buatan Jerman ini masih bias menjalan fungsinya dengan baik karena dirawat dan dijaga dengan baik. Teleskop Zeiss memang diperliharkan kepada khaylak ramai namun bagi yang tidak berkepentingan dilarang mendekatinya. Selain itu kata Dias salah satu mahasiswa ITB semester tujuh mengatakan untuk perbaikannya observatorium memiliki bengkel tersendiri mengingat pabrik yang membuat teleskop Zeiss tidak lagi memproduksi onderdil-onderdilnya. Pada tahun 1951, Observatorium Bosscha diserahkan kepada FMIPA UI. Dengan berdirinya ITB pada tahun 1959, observatorium ini menjadi bagian dari ITB.

Observatorium Bosscha terletak di Lembang, sekitar 15 km ke arah Utara Bandung dengan koordinat geografis 107° 36' Bujur Timur dan 6° 49' Lintang Selatan. Koordinat ini juga mempengaruhi panjang tiang penyangga teleskop Zeiss yang mana tiang di sebelah Utara lebih panjang dari tiang di sebelah Selatannya. Lokasinya berada pada ketinggian 1310 m dari permukaan laut, atau pada ketinggian 630 m dari plato Bandung.

Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II . Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.

Observatorium ini dilengkapi dengan teleskop berbagai ukuran dan jenis Masing-masing teleskop memiliki sasaran objek pengamatan yang berbeda-beda. Ada 5 teleskop yang aktif untuk penelitian astronomi.

Kelima teleskop tersebut adalah:

T1. Teleskop refraktor Ganda Zeiss

Teleskop ini biasa digunakan untuk mengamati bintang ganda visual, mengukur fotometri gerhana bintang, mengamati citra kawah bulan, mengamati planet, mengamati oposisi planet Mars,Saturnus, Jupiter, dan untuk mengamati citra detail komet terang serta benda langit lainnya. Teleskop ini mempunyai 2 lensa objektif dengan diameter masing-masing lensa 60 cm, dengan titik api atau fokusnya adalah 10,7 meter.

2. tTeleskop Schmidt Bima Sakti

Teleskop ini biasa digunakan untuk mempelajari struktur galaksi Bima Sakti, mempelajari spektrum bintang, mengamati asteroid, supernova, Nova untuk ditentukan terang dan komposisi kimiawinya, dan untuk memotret objek langit. Diameter lensa 71,12 cm. Diameter lensa koreksi biconcaf-bicofex 50 cm. Titik api/fokus 2,5 meter. Juga dilengkapi dengan prisma pembias dengan sudut prima 6,10, untuk memperoleh spektrum bintang. Dispersi prisma ini pada H-gamma 312A tiap malam. Alat bantu extra-telescope adalah Wedge Sensitometer, untuk menera kehitaman skala terang bintang , dan alat perekam film

3. tTeleskop Refraktor Bamberg

Teleskop ini biasa digunakan untuk menera terang bintang, menentukan skala jarak, mengukur fotometri, gerhana bintang, mengamati citra kawah bulan, pengamatan matahari, dan untuk mengamati benda langit lainnya. Dilengkapi dengan fotoelektrik-fotometer untuk mendapatkan skala terang bintang dari intensitas cahaya listrik yang di timbulkan. Diameter lensa 37 cm. Titik api ata

4. tTeleskop Cassegrain GOTO

Dengan teleskop ini, objek dapat langsung diamati dengan memasukkan data posisi objek tersebut. Kemudian data hasil pengamatan akan dimasukkan ke media penyimpanan data secara langsung. Teropong ini juga dapat digunakan untuk mengukur kuat cahaya bintang serta pengamatan spektrum bintang. Dilengakapi dengan spektograf dan fotoelektrik-fotometer.

5. tTeleskop refraktor Unitron

Teleskop ini biasa digunakan untuk melakukan pengamatan hilal, pengamatan pengamatan gerhana dan gerhana matahari, dan pemotretan bintik matahari serta pengamatan benda-benda langit lain. Dengan diameter lensa 13 cm, dan fokus 87 cm

Observatorium yang dipimpin oleh Bapak Taufik Hidayat ini mengalami masalah yang cukup berat yaitu polusi cahaya yang diakibatkan oleh perkembangan pemukiman di daerah Lembang dan kawasan Bandung Utara yang tumbuh laju pesat sehingga banyak daerah atau kawasan yang dahulunya rimbun ataupun berupa hutan-hutan kecil dan area pepohonan tertutup menjadi area pemukiman, vila ataupun daerah pertanian yang bersifat komersial besar-besaran. Akibatnya banyak intensitas cahaya dari kawasan pemukiman yang menyebabkan terganggunya penelitian atau kegiatan peneropongan yang seharusnya membutuhkan intensitas cahaya lingkungan yang minimal. Sementara itu, kurang tegasnya dinas-dinas terkait seperti pertanahan, agraria dan pemukiman dikatakan cukup memberikan andil dalam hal ini. Dengan demikian observatorium yang pernah dikatakan sebagai observatorium satu-satunya di kawasan khatulistiwa ini menjadi terancam keberadaannya.

Setelah melihat dan mendengar penjelasan mengenai Teleskop Zeiss, teleskop tertua yang ada di observatorium ini serta sejarah singkatnya, rombongan kami dan rombongan Perhimpunan Gereja Indonesia yang kebetulan mengadakan lawatan ke Bosscha disuguhi dengan penjelas-penjelasan umum tentang astronomi yang bentuk film documenter serta adanya sesi Tanya jawab.

Menghabiskan waktu dua jam untuk mengunjungi observatorium bagi orang yang mencintai ilmu perbintangan adalah waktu yang singkat. Apalagi belum sempat untuk mencoba teleskop refraktor Unitron dan teleskop Schmidt Bima Sakti yang dapat dicoba pada saat kunjungan malam belumlah cukup. Maka kami berencana untuk kembali lagi tahun depan. Karena observatorium membuka kunjungan malam untuk umum mulai bulan April hingga Agustus disamping untuk penelitian yang dilakukan. Kunjungan tersebut terbatas hanya tiga kali pengamatan dalam sebulan sehingga baginya berminat harus mendaftar sesegera mungkin.

Pulang dari Bosscha kami makan disalah satu warung yang menjual berbagai jenis sate termasuk sate kelinci. Dan yang lebih aneh lagi mie rebus juga memakai daging kelinci. Lucu ya….

Memang sepanjang perjalanan dari Bandung ke Lembang kita dapat melihat di kiri-kanan jalan orang menjual kelinci mulai kelinci untuk dipelihara hingga kelinci yang dijadikan makanan. Akhirnya kami harus meninggalkan hijaunya pepohonan dan segarnya udara Lembang untuk kembali beraktivitas di Bandung.