Wednesday, March 28, 2012

Kunjungan Ke Rumah Zero Waste Milik Supardiyono Sobirin


Bandung -Ditemani matahari pagi yang menyehatkan, tim trainer beserta staf  dan relawan dari YPBB(Yayasan Pengenmbangan Biosains dan Bioteknologi) melakukan kunjungan ke rumah Supardiyono Sobirin di jalan Alfa 92 Cigadung (Sabtu,24/3/2012).
“Selamat datang di rumah saya, Rumah Zero Waste,” sambut bapak Sobirin menyambut kedatangan rombongan tim trainer, staf, dan relawan dari YPBB yang ingin mengetahui bagaimana keluarga beliau mengolah sampah rumah tangga yang dihasilkan.
Suparyono Sobirin, pemilik rumah 'zero waste'

Ternyata kali ini bukan YPBB saja yang melakukan kunjungan, di halaman depan rumah  Sobirin telah berkumpul pula perwakilan warga dari desa cilengkrang yang diteman oleh bapak camatnya. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk belajar untuk tentang pengelolaan sampah skala rumah tangga.  
Berkaitan dengan Rumah Zero Waste, bapak Sobirin menjelaskan semenjak empat tahun lalu beliau menganut prinsip “Zero Waste” yang beliau aplikasikan mulai dari rumah beliau sendiri dan berlanjut menulari warga -warga disekitar . “Rumah Zero Waste”yang berarti rumah yang sama sekali tidak menghasilkan sampah.
 Apakah itu mungkin terjadi?

Mungkin saja. Rumah Zero Waste bermula dengan pemisahan sampah. Menurut Sobirin, sampah rumah tangga yang dihasilkannya sekitar 60% berupa sampah organik ──persentase ini tidak selalu tetap, dapat berubah setiap harinya──, 40% sampah lain yang terbagi lagi atas: 20% sampah plastik;  10% sampah kertas; dan 10% sampah lain-lain.  Setelah dilakukan pemisahan sampah, tahap selanjutnya pengolahan dan pemanfaatan. Untuk sampah plastik, dilakukan pemilahan antara botol dan plastik bekas makanan. Sampah yang telah dipilah di cuci hingga bersih. Untuk botol-botol diberikan pada pemulung dan plastik bekas makanan dapat dikreasikan menjadi kerajinan tangan.
Sampah organik… Untuk jenis sampah yang satu ini, Pak Sobirin mengolahnya dengan beberapa metode. Untuk sampah basah seperti peuyeum,bongkol pisang,  kencing serta kotoran kelinci diolah  menjadi mol (pupuk cair). Ada tiga jenis mol yang diproduksi oleh bapak Sobirin dipekarangan rumahnya yaitu mol peuyeum ( membantu pengomposan sampah dan mempercepat pembentukkan buah), mol air kencing kelinci (mempercepat pembentukkan buah dan  pertumbuhan daun), dan mol bongkol pisang (mempercepat pembentukkan buah dan pertumbuhan daun).  Untuk membuat mol diperlukan ¾ dari volume tempat  untuk air, satu kilogram gula, enam gelas air kelapa, serta satu kilogram bahan baku. Setelah dicampur dan diaduk didiamkan selama empat hari. Di hari kelima, mol sudah siap digunakan sebagai pupuk cair atau pun untuk pengomposan.

Jenis Mol yang diproduksi oleh Bapak Sobirin Supardiyono

Sampah dipekarangan rumah seperti daun, ranting, bangkai tikus, dan lainnya difermentasi secara aerob maupun anaerob yang menghasilkan pupuk kompos. Pengomposan secara aerob, Pak Sobirin sengaja membuat bak khusus dengan ukuran 1m x 1m x 1m disamping rumah dengan berventilasi. Bagian bawah khusus di design memiliki pintu agar dapat memanen  kompos.  Sampah pekarangan di potong kecil kecil lalu ditumpuk didalam bak. Setiap hari dilakukan pengadukkan dan setaip tiga hari sekali diberi campuran ketiga mol. Hasil pengomposan secara aerob dapat dipanen setelah satu bulan. Pengomposan secara anaerob dilakukan di halaman dengan bagian atas ditutup. Sampah yang akan dikompos, sengaja biarkan bersentuhan dengan tanah. Proses yang dilakukan sama dengan proses pengomposan secara aerob. Panen hasil untuk pengomposan ini dapat dilakukan setelah enam bulan.
Selain itu, prinsip segala sesuatu itu dapat diolah dan dijadikan sesuatu yang bermanfaat dapat terlihat di pekarangan belakang rumah Pak Sobirin. Di pekarangannya yang luas itu terdapat kandang kelinci, penampungan air hujan, dan  pengolahan limbah cuci dapur. Kotoran dari kelinci berserta kencingnya, beliau manfaatkan menjadi mol.
Untuk air bekas cucian dapur, Pak Sobirin membuat treatmen khusus. Beliau membuat kolam kecil bertingkat tiga seluas satu meter persegi. Tingkat ketiga terdiri dari dua kolam kecil. Kolam satu berukuran 40 cm x15 cm dan kolam dua 40 cm x25 cm. Antar kolam dibatasi dinding beton tipis dan berlubang sebagai saringan. Selain itu, pada kolam satu juga diberi busa karet yang berfungsi sebagai penyaring. Kolam tiga yang berukuran 60 cm x 40 cm berada pada tingkat kedua. Kolam ini menampung air yang berasal dari kolam dua dan mengalirkan air ke kolam 4 (kolam terbesar yang berukuran 100 cm x 60 cm) yang terletak didasar melalui pipa paralon.  Kolam 2,3, dan 4 bisa di jadikan “taman air limbah” dengan menanam tanaman air (teratai, melati air, enceng) sebagai penyerap bahan pencemar dalam air bekas cucian atau kolam ikan (jenis ikan yang tahan hidup dalam bekas air cucian dapur).
Air hujan yang turun di halaman rumah beliaupun ikut dimanfaatkan. Beliau menampungnya dan  menanfaatkannya untuk menyiram tanaman,  dan mencuci tangan setelah membersihkan pekarangan. Menampungan air ini tidak memiliki treatmen khusus. Menurut beliau, air hujan tidak perlu di treatmen lagi karena di alam sendiri proses tersebut telah dilakukan. Namun Tian, salah seorang relawan YPBB,  memiliki pandangan lain. Air hujan  pada zaman sekarang sudah terkena polusi asap pabrik, kendaraan dan polusi-polusi lain sehingga perlu treatmen khusus untuk menguranginya
Sebisa mungkin tidak ada sampah yang keluar dari rumah’ merupakan prinsip dianut oleh keluarga Pak Sobirin yang dapat ditiru oleh keluarga lain untuk mengurangi sampah dari rumah.__Hani   

Foto Bersama, Volunteer, Staff YPBB dan Pak Sobirin Supardiyono


Friday, February 17, 2012

Acak Kadut Publikasi Maya


Sedikit sharing tentang keluhan mungkin sebagian kecil pengguna social network  dan pemikiran saya tentang publikasi maya

"Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI),Pub·li·ka·si n 1 pengumuman; 2 penerbitan. Sehingga umum dapat disimpulkan bahwa publiasi adalah kegiatan memberitahukan/ mengumumkan suatu kegiatan, event, kampaye, ataupun produk kepada masyarakat luas dengan tujuan tertentu."

Sebelum internet merambah keseluruh pelosok, publiasi biasanya dilakukan dengan cara penempelan pada papan pengumuman, pembagian flayer, bosur,atau pamphlet, poster, dan media massa. Untuk publikasi menggunakan media massa biasanya dikenakan tarif tertentu berdasarkan iklan yang akan ditayangkan, durasi serta pertimbangan lain. Publikasi ini terasa memberatkan disebabkan karena harus mengeluarkan ongkos tambahan.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga mempengaruhi cara orang dalam mempublikasikan sesuatu event, kampaye, atau pun produk dagangan. Banyaknya jaringan pertemanan seperti Facebook, Twitter, Koprol, Blog dan sebagainya, memudah dalam mempublikasikan sesuatu.

Contoh keluhan salah satu pengguna Facebook
Contoh mudah, dalam penggunaan Facebook, publikasi dilakukan dengan berbagai cara seperti update status, upload foto dan tag foto, menggunakan akun FB khusus ataupun menciptakan group serta fan page. Pada awalnya cara ini cukup efektif karena updatean informasi diterima secara cepat namun kelama- lamaan hal ini mengganggu kenyamanan dalam menggunakan social networking. Update-update yang berisi promosi dan publikasi ini terkadang memenuhi home pengguna social networking sehingga update-an penting tertutup dengan updatean publikasi. Banyak pengguna social networking yang mulai mengeluh.

Selain itu, publikasi dalam bentuk taggin foto juga terasa mulai mengganggu. Mulai dengan meng-tag barang-barang yang dijual dionline shop hingga publikasi acara yang acak-kadut menghiasi foto-foto, wall, atau status kita.

Benar adanya publikasi melalui media maya sekarang sedang booming dan efektif-efektifnya. Namun ada yang dilupakan oleh orang yang menerbitkan publikasi maya. Jika suatu event telah dilaksanakan atau barang dionline shop telah sold out, dimohon untuk membersihkan publikasi dan promo yang telah dibuat. Maksud membersihkan disini mengromove tag foto yang berisi event atau sale yang telah dipromosikan. Jangan sampai kita mengurangi sampah dalam kehidupan nyata tapi membuat sampah baru dalam didunia maya. Mungkin sebagian orang tidak terlalu memperdulikan hal ini, namun ada sebagian lain yang terganggu dengan publikasi semacam ini. Ingat hal yang kita lakukan menyangkut dengan orang  lain juga.


Salah satu publikasi kadarluarsa
Maaf jika tulisan ini menyinggung beberapa pihak yang memiliki kepentingan dengan publikasi di dunia maya. 

Wednesday, December 7, 2011

Imajinasi saat kuliah Hukum Lingkungan


23 Agustus 2011

Setengah mengantuk mengikuti kuliah "Hukum Lingkungan" yang diajarkan oleh bapak Sutan Adjamsjah yang diadakan pada pukul 16.00-18.00. Saat beliau menerangkan slide mengenai 'Ekologi dan Teknis Berproduksi dari Lingkungan Hidup' khususnya tentang penjelasan tentang teknis ekstratif adalah masa dimana saya sangat tidak konsentrasi dan mengantuk. Namun ada beberapa hal yang menarik dari ocehan beliau.

"Teknis ekstraktif adalah suatu proses mengambil sesuatu dari alam untuk memenuhi kebutuhan manusia" setidaknya itulah yang saya tangkap dari penjelasan beliau.
Menurut http://www.kamusbesar.com/9985/ekstraktif kata ekstraktif tergolong kepada kelompok adjektiva yang berarti bersifat ekstraksi.

Otak saya mulai kembali bekerja saat beliau memberikan  contoh akibat teknis ekstraktif pada penambangan terbuka yang terjadi di Tembagapura (FreeFort) yang dampaknya tidak terlalu kentara karena merupakan daerah kosong (tidak terdapat permukiman) dan penambangan timah di Bangka Belitung yag meninggalkan lubang galian besar.

Imajinasi saya membawa melihat suatu contoh kasus yang terjadi di daerah yang pernah saya kunjungi 5 tahun yang lalu. Tepatnya didaerah Sawahlunto.
Kota Sawahlunto terkenal dengan julukkan kota mutiara hitam, kota arang,dan kota tambang. Julukkan tersebut emang pantas diberikan karena sebagian besar matapencarian penduduknya ditopang dari sektor pertambangan khususnya batubara. Sawahlunto pernah menjadi pengahsil batubara terbesar di Indonesia. Sejarah berdiriannya pertambangan batubara dikota ini dimulai sejak ditemukannya cadangan batu bara di kota ini oleh seorang geolog Belanda bernama Ir. William Hendrik De Greve pada tahun 1867 yang diperkirakan depositnya 200 juta ton. Dengan potensi tersebut, 1 Desember 1888 pemerintah Hindia-Belanda mulai melakukan investasi sebesar 5.5 juta gulden untuk membangun berbagai fasilitas pengusahaan tambang batubara, dalam memenuhi kebutuhan industri dan transportasi masa itu. Dan kemudian peristiwa ini diabadikan sebagai Hari Jadi Kota Sawahlunto. Tahun 1982 merupakan awal produksi batubara dari kota ini dan dimulai  kawasan ini menjadi pemukiman pekerja tambang, dan berkembang menjadi sebuah kota kecil dengan penduduk yang intinya adalah pegawai dan pekerja tambang.

Untuk memudahkan pengangkutan batubara, pemerintah Hindia-Belanda membangun jalur kereta api yang menghabiskan dana sebesar 17 juta gulden, menghubungkan kota Sawahlunto dan kota Padang (1894).

Sebelum menjadi daerah pertambangan, Sawahlunto merupakan kamp tahanan. Sehingga hingga tahun 1898, penambangan dilakukan oleh orang rantai (narapidana yang dipaksa bekerja untuk menambang dengan  upah yang murah). Tahun 1908 untuk upah buruh paksa adalah sebesar 18 sen/hari dan setiap pembangkangan dikenakan sangsi hukum cambuk. Untuk buruh kontrak mendapatkan bayar sebesarr 32 sen/hari dan mendapatkan fasilitas tempat tinggal serta jaminan kesehatan. Sedangkan untuk buruh bebas upahnya sebesar 62 sen/hari tanpa mendapat fasilitas apapun.

Tahun 1918 kota Sawahlunto telah dikategorikan sebagai Gemeentelijk Ressort atau Gemeentedengan luas wilayah 778 Ha, atas keberhasilan kegiatan pertambangannya. Adanya  kereta api telah mendorong produksi pertambangan batubara memberikan hasil yang positif, dimana pada tahun 1920 produksi batu bara dari hanya puluhan ribu ton menjadi ratusan ribu ton per tahun, dari usaha yang rugi menjadi usaha dengan laba besar sampai 4,6 juta gulden dalam setahun.
Setelah kemerdekaan Indonesia, selanjutnya hak penambangan dikelola oleh negara dan diberikan kepada PT Tambang Batubara Ombilin (TBO), namun kemudian perusahaan ini dilikuidasi menjadi anak perusahan dari PT. Bukit Asam yang terdapat di Sumatera Selatan. Dan seiring dengan reformasi pemerintahan dan bergulir otonomi daerah, masyarakat setempat pun menuntut untuk dapat melakukan penambangan sendiri.

Dari sekian banyak perusahaan yang melakukan operasi penambangan, yang menarik perhatian saya adalah kasus PT. PAMA Persada Nusantara.
Sekitar tahun 2003, kedalaman eksploitasi melalui tambang terbuka yang dilakukan perusahaan tambang ini mencapai kedalaman 175 meter dikaki bukit Tanah Hitam.Tak jauh dari lokasi penam­bangan tersebut, terdapat aliran Sungai Batang Ombilin yang berasal dari Danau Singkarak yang bermuara dipantai timur Sumatera. Aktifitas penambangan ini bergerak terus menuju dinding pembatas antara kawasan tambang dan sungai. Denga keadaan dinding penahan yang rapuh menyebabkan aliran Batang Ombilin dapat menjebol dinding pembatas.Tanggal 25 April 2003 dalam waktu  kurang dari setengah hari, seluruh kawasan pertambangan milik PT. PAMA Persada Nusantara berubah menjadi danau, menenggelamkan puluhan orang pekerja tambang, serta menyebabkan aliran sungai Batang Ombilin kering selama 3 jam. Danau yang terbentuk tak sengaja ini oleh masyarakat setempat diberi nama Danau Kandih.

Sejak kejadian itu, pemerintah Sawahlunto mengalihfungsikan kawasan tersebut menjadi arena rekreasi air di Sawahlunto.Di area Kandih dapat ditemukan berbagai atraksi olah raga air. Masih kawasan sekitar danau Kandih, pemerintah Sawahlunto juga membangun sebuah kebun binatang tematik.Selain itu, Danau Kandih juga dijadikan kawasan perikanan tambak. Namun dalam beberapa tahun kedepan, nama Danau Kandih Sawahlunto akan segera terhapus dari daftar salah satu objek wisata di ‘Kota Arang’ tersebut. Hal ini dikarenakan, danau yang terbentuk akibat kecelakaan alias jebolnya aliran Batang Ombilin itu akan segera ditimbun karena dinilai tidak lagi efektif sebagai objek wisata maupun lokasi perikanan. Rencana penimbunan tersebut dikarenakan kecenderungan danau yang semakin mendangkal dari waktu ke waktu. Dari awalnya memiliki kedalaman 80 meter hingga mencapai 175 meter, sekarang danau ini hanya memiliki kedalaman 15 meter hingga 45 meter. Pendangkalan terjadi akibat sedimen berupa lumpur dari pengikisan tebing yang ada di arel Kandi serta endapan an-organik dari aliran sungai Ombilin, yang juga bisa mencemari lingkungan hidup dikawasan itu.Sedimentasi pada dasar danau membentuk lumpur hisap yang sangat berbahaya jika digunakan sebagai lokasi wisata.
Selain itu, danau kandih juga memiliki zat asam yang tinggi yang menyebabkan kematian pada tambak. Semoga saja penimbunan danau Kandih menjadi solusi terbaik untuk dampak pertambangan terbuka di kota Sawahlunto



Thursday, August 11, 2011

Lost in Yogyakarta[Part I]: Say Hello Yogyakarta



Pulang ke kotamu, ada setagkup haru dalam rindu 

Masih seperti dulu 
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna 
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu 
Nikmati bersama suasana Jogja [Yogyakarta__Kla Project]

3 Juni 2011
Secara random saya, Dhika, dan Mahdi memutuskan untuk liburan ke kota Yogyakarta setelah rencana awal liburan sambil survey ke penangkaran penyu di pantai Pangumbahan Ujung Genteng gagal total.

Sekitar pukul 13.00 setelah sholat jumat, saya dan Dhika pergi ke Stasiun Bandung mencari tiket kereta ekonomi yang berujung dengan tidak ada tiket kereta api kelas ekonomi yang di jual untuk keberangkatan malam. Informasi dari loket penjualan tiket kereta yang ada di Stasiun Bandung, untuk ke berangkatan malam biasanya dijual di Stasiun Kiaracondong. Dengan langkah cepat, saya dan Dhika bergegas ke Stasiun Kiaracondong untuk membeli tiket kereta ekonomi. Namun, dikarenakan alasan tidak tahu angkot menuju Stasiun Kiaraconodng dari Stasiun Bandung dan menghemat waktu, kita menaiki kereta api jurusan Bandung-Cicalengka (sayangnya bukti tiketnya diambil lagi oleh pihak stasiun Kiaracondong).

Setibanya di stasiun Kiaracondong, kami langsung membeli tiket kereta api ekonomi “Kahuripan” dengan rute Padalarang (Jawa Barat) – Kediri (Jawa Timur) tanpa tempat duduk seharga Rp. 24.000 pertiket. Yang merupakan pertanda selama perjalanan kemungkinan besar kami akan berdiri non stop. Sedikit menghibur dan membisikkan dalam hati ”Palingan, entar ada yang berhenti dijalan trus tempat duduknya bisa diambil”
******
Setelah sholat Magrib, saya, Dhika Permana Amri dan Mahdi badari janjian ketemu di depan atm gallery Pasar Simpang Dago. Lalu menaikin angkot (Riung-Dago) menuju stasiun Kiaracondong. Stasiun Kiaracondong merupakan stasiun besar kedua di Kota Bandung setelah stasiun Bandung. Stasiun ini terletak di batas antara Kelurahan Babakansari dan Kelurahan Kebunjayanti, dan hanya melayani keberangkatan kereta api kelas ekonomi
Kereta api “Kahuripan”, itulah nama kereta yang kami naiki dengan rute perjalanan Padalarang, Kiaracondong, Rancaekek,Cicalengka, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Sidareja, Maos, Kroya, Gombong, Kebumen, Kutoarjo, Wates, Lempuyangan, Kalten, Solojebres, Sragen, Walikukun, Madiun, Ngajuk, Kertosono, Kediri. Kereta api kahuripan terdiri atas 7 gerbong Kereta Kelas Ekonomi + 1 gerbong Kereta Makan dengan kode seri lokomotif CC. 201. Jumlah tempat duduk yang disediakan kereta ini sekitar untuk 742 orang dan toleransi kapasitas angkut 1.113 orang.
Nama Kahuripan sendiri berasal dari nama sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1009 sebagai kelanjutan Kerajaan Medang yang runtuh tahun 1006. Dan merupakan awal mula bedirinya kerajaan Kediri. Kerajaan Kahuripan berakhir dengan masalah perebutan tahta kerajaan. Ketika calon raja yang sebenarnya, Sanggramawijaya Tunggadewi memeutuskan menjadi pertapa. Akhir November 1042, Airlangga membagai kerajaan menjadi dua bagian. Bagian barat bernama Kadiri dengan ibukota Daha yang dipimpin oleh putranya yang bernama Sri Samarawijaya dan bagian timur bernama Janggala beribukotaka Kahuripan yang diserahkan kepada Mapanji Garasakan. Itulah akhir dari kerajaan Kahuripan yang melahirkan dua kerajaan baru.
Kereta api “ Kahuripan” termasuk kereta api yang paling banyak mengalami perubahan rute. Pada awalnya, Kereta Api ini melayani rute Kediri-Bandung-Pasar Senen, namun sejak 26 Juli 1995 rutenya dipotong sehingga hanya melayani rute Kediri-Bandung. Seiring dengan beralihnya pelayanan KA ekonomi dari Bandung ke Kiaracondong, kemudian rutenya berubah lagi menjadi Kediri-Kiaracondong. Kemudian rute KA ekonomi “Kahuripan” diperpanjang sedikit ke arah barat menjadi Kediri-Padalarang.




Thursday, July 14, 2011

Ada Buaya di PVJ

Bandung, 21 Juni 2011

Hari ini saya dan teman saya, Dida pergi ke PVJ (Paris Van Java). Paris Van Java Resort Lifestyle Place atau yang lebih dikenal dengan nama Paris Van Java Mall adalah sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di jalan Sukajadi, no. 137 - 139. Nuansa open air yang dilengkapi pemandangan burung merpati hias berterbangan bebas serta konsep bangunan bergaya arsitektur Eropa menjadi daya tarik sendiri bagi mal yang berdiri pada Juni 2006 ini disamping beberapa show yang diadakan pihak pengelola untuk menarik perhatian pengunjung. Sebenarnya, kali ini saya sendiri tidak memiliki keperluan khusus kesana, hanya menemani Dida yang sedang mencari sepatu untuk KP. Namun ada hal yang membuat saya kepicut dan ingin pergi kesana, yaitu adanya "Crocodille Fishing" (Memancing buaya).


Apa itu "Crocodille Fishing"? Crocodille Fishing merupakan salah satu bentuk promosi pariwisata yang berada di Jawa Barat. Pada stand khusus yang telah disediakan(didekat kolam), terpajang banner-banner yang menjelaskan wisata-wisata apa yang dapat dikunjungi di Jawa Barat seperti kawah putih, ranca upas, dan blanakan. selain itu ada brosur-brosur yang dibagikan pada pengunjung stand berisikan penjelasan ringkas serta peta perjalanan menuju tempat
wisata. Untuk membuat stand tersebut lebih menarik, disiapkan beberapa wahana. Di stand kali ini, terdapat wahana Crocodille Fishing dan Foto bersama bayi buaya muara.

Untuk mencoba wahana Crocodille Fishing, pengunjung harus membayar IDR 25000. Namun ada beberapa paket yang ditawarkan. Intinya sama yaitu memberi makan buaya dengan cara mengikat secuil daging pada tali yang diikatkan sebatang kayu lalu dilemparkan ke dalam kolam yang berisi belasan buaya. Lalu buaya tersebut akan memakan umpan dan si pawang buaya menarik kayu tersebut seolah-olah seperti sedang memancing buaya (saya tidak tahu apakah ini termasuk animal abuse atau tidak).


Kali ini saya hanya mencoba wahana berfoto bersama bayi buaya. Panjang bayi buayanya sekitar 80-100 cm dengan mulut tertutup. Sepertinya buaya sudah sangat lelah melayani pengunjung yang ingin berfoto dengannya. Untuk berfoto dengan bayi buaya setiap pengujung harus membayar IDR 10000.


Buaya yang dipamerkan termasuk jenis buaya muara yang berasal dari penangkaran di Blanakan

Buaya merupakan reptil air yang memiliki ukuran tubuh yang besar. Selain itu, buaya juga termasuk hewan purba yang sedikit berubah karena evolusi semenjak zaman dinosaurus.. Secara ilmiah, buaya meliputi seluruh spesies anggota suku Crocodylidae, termasuk pula buaya ikan (Tomistoma schlegelii). Kebanyakkan buaya hidup di perairan tawar seperti sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya, namun ada juga yang hidup di air payau seperti buaya muara. Makanan utama buaya adalah hewan-hewan bertulang belakang seperti bangsa ikan, reptil dan mamalia, kadang-kadang juga memangsa moluska dan krustasea bergantung pada spesiesnya.

Karena persebarannya hampir merata diseluruh wilayah Indonesia, buaya memiliki beberapa jenis nama daerah. Misalnya buhaya (Sd.); buhaya (bjn); baya atau bajul (Jw.; bicokok (Btw.), bekatak, atau buaya katak untuk menyebut buaya bertubuh kecil gemuk; senyulong, buaya jolong-jolong (Mly.), atau buaya julung-julung untuk menyebut buaya ikan; buaya pandan, yakni buaya yang berwarna kehijauan; buaya tembaga, buaya yang berwarna kuning kecoklatan; dan lain-lain. Namun dalam bahasa Inggris-nya buaya dikenal dengan sebutan crocodile. Crocodile berasal dari penyebutan orang Yunani ketika melihat buaya yang berjemur yang di tepian Sungai Nil yag berbatu-batu, "krokodilos yag berarti cacing bebatuan"; (kroko, yang berarti ‘batu kerikil’, dan deilos yang berarti ‘cacing’ atau ‘orang’).

Buaya di Indonesia

Sejauh ini diketahui sekitar tujuh spesies (atau subspesies) buaya yang ditemukan di Indonesia, yakni:
  1. Buaya Mindoro atau buaya Filipina (Crocodylus mindorensis)Keberadaan buaya Mindoro di Indonesia (yakni di sekiatar Sulawesi timur dan tenggara) baru dilaporkan semenjak 1996
  2. Buaya Irian (C. novaeguineae)Habitat buaya Irian terdapat di sebelah utara pegunungan tengah
  3. Buaya muara (C. porosus)
  4. Buaya Kalimantan (C. raninus)Buaya Kalimantan (menurut informasi yang jenis buaya ini hidup di Kalimantan Barat dan Selatan). Status keberadaannya masih dalam perdebatan karena buaya kalimatan ini memiliki bentuk dan habitatnya sama dengan buaya air tawar, hanya beberapa ciri yang membedakannya.
  5. Buaya air tawar atau buaya Siam (C. siamensis)
  6. Buaya Sahul (Crocodylus sp.nov.)Satatu keberadaannya selama ini dianggap identik dengan buaya Irian namun buaya Sahul menyebar terbatas disebelah selatan Papua
  7. Buaya senyulong (Tomistoma schlegelii)

Blanakan
Blanakan berada di wilayah administrasi desa/ kelurahan Blanakan Ciasem-Pamanukan Kabupaten Bandung. Sejarah blanakan sendiri berasal dari historis keluarga Buyut Perahu. Nama Blanakan berasal dari kata Belah Sanak (Bahasa Indramayu). Belah berarti pecah/ pisah, sanak berarti duhur/saudara atau keluarga.
Indramayu adalah salah satu nama tempat yang tidak jauh letaknya dangan kecamatan Blanakan termasuk pantai Jawa bagian utara. Dari tempat asal Ki Buyut Perahu tinggal dahulu kemudian berlayar bersama istri dan adiknya untuk mencari nafkah, dalam perjalanannya mereka singgah di salah satu tempat yang sekarang bernama Blanakan
Pada suatu hari Ki Buyut Perahu bermaksud mencari mencek(kijang). Pagi hari sekali sebelum berangkat,Ki Buyut berpesan pada istri dan adiknya agar tidak ikut berburu. Setelah seharian mencari kijang kemudian Ki Buyut pulang dengan membawa hasil, sesampai di rumah langsung membuka rumahnya, ternyata Ki Buyut mendapati istri dan adiknya. Hingga akhirnya Ki Buyut memikah lagi dengan seorang istri asal Blanakan (sekarang).
Ki Buyut Perahu berterus terang kepada istrinya yang baru tentang aib ang menimpanya, dan berkata "Saya lebih baik belah sanak dari pada "hidup malu" sehingga dari kata-kata itu kemudian mereka menyebutnya kampung belah sanak. Oleh anak Ki Buyut Perahu, kampung tersebut diubah menjadi Blanakan.

Penangkaran Buaya
Penagkaran Buaya Blanakan terletak pada ketinggian 0-1 meter diatas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata 28 C Jenis Buaya yang ditangkarkan disini adalah buaya muara. Buaya muara atau yang lebih dikenal dengan buaya bekatak (Crocodylus porosus) merupakan jenis buaya yang memiliki habitat hidup pada sungai-sungai yang berdekatan dengan laut (muara). Ditempat tersebut, memiliki karakteristik air berupa perpaduan air asin dan air tawar (air payau). Daerah penyebarannya ditemukan di seluruh perairan Indonesia, Papua Nugini, Australia Utara, Kepulauan Pasifik, Brunei, Myanmar, Kamboja, Philippina, Burma, India, Srilanka, Cina hingga Semenanjung Malaya. Buaya Muara terkenal sebagai jenis buaya terganas di dunia.
Cara berburu buaya muara termasuk unik, yaitu cukup dengan mengambil posisi diam bagai patung yang tak berdaya sebagai salah satu strategi kamuflase untuk memperoleh mangsanya. Biasanya mangsa akan terpedaya dan sama sekali tidak menyadari bahwa ia-lah yang justru mendekati mulut buaya. Kemudian tanpa disangka-sangka ia mampu bergerak secepat kedipan mata menyambar mangsanya. Yang paling berbahaya dari Buaya Muara (Crocodylus porosus) adalah gigitannya yang sangat kokoh, sehingga dapat meremukkan tulang dari mangsanya. Gigi-gigi Buaya Muara (Crocodylus porosus) umumnya adalah gigi taring yang menyebar merata di seluruh permukaan dalam mulutnya. Dengan rahang yang sangat kuat serta ditunjang dengan deretan gigi yang menyerupai gergaji, maka jarang ada mangsa yang dapat lolos dari gigitannya.
Buaya muara ini juga mampu melompat keluar dari air untuk menyerang mangsanya. Bahkan bilamana kedalaman air melebihi panjang tubuhnya, buaya muara mampu melompat serta menerkam secara vertikal mencapai ketinggian yang sama dengan panjang tubuhnya.
Di habitat aslinya, hewan reptilia penyendiri ini juga hidup secara tetitori dengan membagi-bagi daerahnya. Jika salah satu buaya melanggar batas teritorialnya maka akan terjadi penyerangan. Buaya yang tadinya hanya berdiam, bisa berubah ganas ketika mengadakan perlawanan. Hewan ini dengan cepat menjadi lincah bergerak dan selalu siap menerjang.
Perkembangbiakan Buaya Muara (Crocodylus porosus) sangat sering terjadi pada musim hujan. Pada musim bertelur dibulan November sampai dengan bulan April seekor induk betina mampu menghasilkan 30-60 butir telur dan akan menetas dalam tempo tiga bulan. Suhu yang optimum bagi telur untuk menetas adalah sebesar 31,6 derajat celcius. Disaat-saat seperti ini induk betina akan berubah menjadi sangat buas. Induk betina biasanya menyimpan telur-telurnya dengan membenamkannya di tanah atau di bawah seresah daun. Dan kemudian induk tersebut menunggu dari jarak beberapa meter.

Walaupun Buaya Buaya Muara (Crocodylus porosus) cukup mudah bertelur, namun tidak mudah bagi telur-telur tersebut untuk menetas. Penyebabnya selain karena faktor tanah yang tidak sesuai, perubahan suhu dan iklim, juga karena dimakan predator lain dan diburu manusia. Curah hujan yang tinggi akan mendukung kondisi Buaya Muara (Crocodylus porosus) untuk dapat berkembang biak lebih cepat. Sehingga upaya-upaya untuk mempertahankan habitat buaya yang mendukung bagi siklus hidupnya mulak diperlukan.
Saat menetas, bayi Buaya Muara (Crocodylus porosus) hanya berukuran 20-30 cm saja. Buaya Muara (Crocodylus porosus) mencapai ukuran lebih dari satu meter selama lebih kurang dua tahun. Masa dewasa dari satwa tersebut adalah setelah ia berumur lebih dari 12 tahun.
Pelepasan bibit pertama dipenangkaran Blanakan ini dilakukan pada bula Desember 1988 sebanyak 62 ekor yang didatangkan dari Kalimantan Barat, Palembang, dan kupang yang berusia antara 3-12 bulan. Tidak hanya dapat mengamati buaya, dipenangkaran buaya Blanakan ini dapat juga dilakukan bird watching, pengamatan satwa liar (ular sawah, burung Kuntul, babi hutan, dan kucing hutan) dan flora (rumput teki, rumput gajah, hamtuang, pasiran, bakau api-api, dan kaneka), dan hutan mangrove.
Pada bulan-bulan tertentu (biasanya Oktober-November), para nelayan dan masyakarat setempat mengadakan upacara tradisional dengan membuang kepala kerbau ke tengah laut setiap tahunnya yang dikenal dengan Pesta Laut.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Paris_Van_Java_Mall
http://id.wikipedia.org/wiki/Buaya_muara
http://id.wikipedia.org/wiki/Buaya
http://natuna.org/buaya-muara.html
brosur perhutani ""wana wisata Blanakan"

Saturday, June 25, 2011

SMS Konyol [Kenapa SMS nyampenya Lama]

Amy : ..... Sms amy lemot ya?
Panda : Yup, maklum aja amy, smsnya capek pp jakarta bandung
Amy : -________-''(emang ngirim sms harus pake dinaikin ke travel dulu ya)

SMS Konyol [Entar Turun Dimana]

Panda : Nanti sebelum berangkat tanya supirnya ya?.......
Amy : Tanya turunnya dimana kan?
Panda : Tanya supirnya Komunis, marxis, sosialis liberalis, demokratis
Amy : Gubraak...! Tanya aja sekalian dia bisa nganterin amy nyampe padang atau ga? -______-