Thursday, July 14, 2011

Ada Buaya di PVJ

Bandung, 21 Juni 2011

Hari ini saya dan teman saya, Dida pergi ke PVJ (Paris Van Java). Paris Van Java Resort Lifestyle Place atau yang lebih dikenal dengan nama Paris Van Java Mall adalah sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di jalan Sukajadi, no. 137 - 139. Nuansa open air yang dilengkapi pemandangan burung merpati hias berterbangan bebas serta konsep bangunan bergaya arsitektur Eropa menjadi daya tarik sendiri bagi mal yang berdiri pada Juni 2006 ini disamping beberapa show yang diadakan pihak pengelola untuk menarik perhatian pengunjung. Sebenarnya, kali ini saya sendiri tidak memiliki keperluan khusus kesana, hanya menemani Dida yang sedang mencari sepatu untuk KP. Namun ada hal yang membuat saya kepicut dan ingin pergi kesana, yaitu adanya "Crocodille Fishing" (Memancing buaya).


Apa itu "Crocodille Fishing"? Crocodille Fishing merupakan salah satu bentuk promosi pariwisata yang berada di Jawa Barat. Pada stand khusus yang telah disediakan(didekat kolam), terpajang banner-banner yang menjelaskan wisata-wisata apa yang dapat dikunjungi di Jawa Barat seperti kawah putih, ranca upas, dan blanakan. selain itu ada brosur-brosur yang dibagikan pada pengunjung stand berisikan penjelasan ringkas serta peta perjalanan menuju tempat
wisata. Untuk membuat stand tersebut lebih menarik, disiapkan beberapa wahana. Di stand kali ini, terdapat wahana Crocodille Fishing dan Foto bersama bayi buaya muara.

Untuk mencoba wahana Crocodille Fishing, pengunjung harus membayar IDR 25000. Namun ada beberapa paket yang ditawarkan. Intinya sama yaitu memberi makan buaya dengan cara mengikat secuil daging pada tali yang diikatkan sebatang kayu lalu dilemparkan ke dalam kolam yang berisi belasan buaya. Lalu buaya tersebut akan memakan umpan dan si pawang buaya menarik kayu tersebut seolah-olah seperti sedang memancing buaya (saya tidak tahu apakah ini termasuk animal abuse atau tidak).


Kali ini saya hanya mencoba wahana berfoto bersama bayi buaya. Panjang bayi buayanya sekitar 80-100 cm dengan mulut tertutup. Sepertinya buaya sudah sangat lelah melayani pengunjung yang ingin berfoto dengannya. Untuk berfoto dengan bayi buaya setiap pengujung harus membayar IDR 10000.


Buaya yang dipamerkan termasuk jenis buaya muara yang berasal dari penangkaran di Blanakan

Buaya merupakan reptil air yang memiliki ukuran tubuh yang besar. Selain itu, buaya juga termasuk hewan purba yang sedikit berubah karena evolusi semenjak zaman dinosaurus.. Secara ilmiah, buaya meliputi seluruh spesies anggota suku Crocodylidae, termasuk pula buaya ikan (Tomistoma schlegelii). Kebanyakkan buaya hidup di perairan tawar seperti sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya, namun ada juga yang hidup di air payau seperti buaya muara. Makanan utama buaya adalah hewan-hewan bertulang belakang seperti bangsa ikan, reptil dan mamalia, kadang-kadang juga memangsa moluska dan krustasea bergantung pada spesiesnya.

Karena persebarannya hampir merata diseluruh wilayah Indonesia, buaya memiliki beberapa jenis nama daerah. Misalnya buhaya (Sd.); buhaya (bjn); baya atau bajul (Jw.; bicokok (Btw.), bekatak, atau buaya katak untuk menyebut buaya bertubuh kecil gemuk; senyulong, buaya jolong-jolong (Mly.), atau buaya julung-julung untuk menyebut buaya ikan; buaya pandan, yakni buaya yang berwarna kehijauan; buaya tembaga, buaya yang berwarna kuning kecoklatan; dan lain-lain. Namun dalam bahasa Inggris-nya buaya dikenal dengan sebutan crocodile. Crocodile berasal dari penyebutan orang Yunani ketika melihat buaya yang berjemur yang di tepian Sungai Nil yag berbatu-batu, "krokodilos yag berarti cacing bebatuan"; (kroko, yang berarti ‘batu kerikil’, dan deilos yang berarti ‘cacing’ atau ‘orang’).

Buaya di Indonesia

Sejauh ini diketahui sekitar tujuh spesies (atau subspesies) buaya yang ditemukan di Indonesia, yakni:
  1. Buaya Mindoro atau buaya Filipina (Crocodylus mindorensis)Keberadaan buaya Mindoro di Indonesia (yakni di sekiatar Sulawesi timur dan tenggara) baru dilaporkan semenjak 1996
  2. Buaya Irian (C. novaeguineae)Habitat buaya Irian terdapat di sebelah utara pegunungan tengah
  3. Buaya muara (C. porosus)
  4. Buaya Kalimantan (C. raninus)Buaya Kalimantan (menurut informasi yang jenis buaya ini hidup di Kalimantan Barat dan Selatan). Status keberadaannya masih dalam perdebatan karena buaya kalimatan ini memiliki bentuk dan habitatnya sama dengan buaya air tawar, hanya beberapa ciri yang membedakannya.
  5. Buaya air tawar atau buaya Siam (C. siamensis)
  6. Buaya Sahul (Crocodylus sp.nov.)Satatu keberadaannya selama ini dianggap identik dengan buaya Irian namun buaya Sahul menyebar terbatas disebelah selatan Papua
  7. Buaya senyulong (Tomistoma schlegelii)

Blanakan
Blanakan berada di wilayah administrasi desa/ kelurahan Blanakan Ciasem-Pamanukan Kabupaten Bandung. Sejarah blanakan sendiri berasal dari historis keluarga Buyut Perahu. Nama Blanakan berasal dari kata Belah Sanak (Bahasa Indramayu). Belah berarti pecah/ pisah, sanak berarti duhur/saudara atau keluarga.
Indramayu adalah salah satu nama tempat yang tidak jauh letaknya dangan kecamatan Blanakan termasuk pantai Jawa bagian utara. Dari tempat asal Ki Buyut Perahu tinggal dahulu kemudian berlayar bersama istri dan adiknya untuk mencari nafkah, dalam perjalanannya mereka singgah di salah satu tempat yang sekarang bernama Blanakan
Pada suatu hari Ki Buyut Perahu bermaksud mencari mencek(kijang). Pagi hari sekali sebelum berangkat,Ki Buyut berpesan pada istri dan adiknya agar tidak ikut berburu. Setelah seharian mencari kijang kemudian Ki Buyut pulang dengan membawa hasil, sesampai di rumah langsung membuka rumahnya, ternyata Ki Buyut mendapati istri dan adiknya. Hingga akhirnya Ki Buyut memikah lagi dengan seorang istri asal Blanakan (sekarang).
Ki Buyut Perahu berterus terang kepada istrinya yang baru tentang aib ang menimpanya, dan berkata "Saya lebih baik belah sanak dari pada "hidup malu" sehingga dari kata-kata itu kemudian mereka menyebutnya kampung belah sanak. Oleh anak Ki Buyut Perahu, kampung tersebut diubah menjadi Blanakan.

Penangkaran Buaya
Penagkaran Buaya Blanakan terletak pada ketinggian 0-1 meter diatas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata 28 C Jenis Buaya yang ditangkarkan disini adalah buaya muara. Buaya muara atau yang lebih dikenal dengan buaya bekatak (Crocodylus porosus) merupakan jenis buaya yang memiliki habitat hidup pada sungai-sungai yang berdekatan dengan laut (muara). Ditempat tersebut, memiliki karakteristik air berupa perpaduan air asin dan air tawar (air payau). Daerah penyebarannya ditemukan di seluruh perairan Indonesia, Papua Nugini, Australia Utara, Kepulauan Pasifik, Brunei, Myanmar, Kamboja, Philippina, Burma, India, Srilanka, Cina hingga Semenanjung Malaya. Buaya Muara terkenal sebagai jenis buaya terganas di dunia.
Cara berburu buaya muara termasuk unik, yaitu cukup dengan mengambil posisi diam bagai patung yang tak berdaya sebagai salah satu strategi kamuflase untuk memperoleh mangsanya. Biasanya mangsa akan terpedaya dan sama sekali tidak menyadari bahwa ia-lah yang justru mendekati mulut buaya. Kemudian tanpa disangka-sangka ia mampu bergerak secepat kedipan mata menyambar mangsanya. Yang paling berbahaya dari Buaya Muara (Crocodylus porosus) adalah gigitannya yang sangat kokoh, sehingga dapat meremukkan tulang dari mangsanya. Gigi-gigi Buaya Muara (Crocodylus porosus) umumnya adalah gigi taring yang menyebar merata di seluruh permukaan dalam mulutnya. Dengan rahang yang sangat kuat serta ditunjang dengan deretan gigi yang menyerupai gergaji, maka jarang ada mangsa yang dapat lolos dari gigitannya.
Buaya muara ini juga mampu melompat keluar dari air untuk menyerang mangsanya. Bahkan bilamana kedalaman air melebihi panjang tubuhnya, buaya muara mampu melompat serta menerkam secara vertikal mencapai ketinggian yang sama dengan panjang tubuhnya.
Di habitat aslinya, hewan reptilia penyendiri ini juga hidup secara tetitori dengan membagi-bagi daerahnya. Jika salah satu buaya melanggar batas teritorialnya maka akan terjadi penyerangan. Buaya yang tadinya hanya berdiam, bisa berubah ganas ketika mengadakan perlawanan. Hewan ini dengan cepat menjadi lincah bergerak dan selalu siap menerjang.
Perkembangbiakan Buaya Muara (Crocodylus porosus) sangat sering terjadi pada musim hujan. Pada musim bertelur dibulan November sampai dengan bulan April seekor induk betina mampu menghasilkan 30-60 butir telur dan akan menetas dalam tempo tiga bulan. Suhu yang optimum bagi telur untuk menetas adalah sebesar 31,6 derajat celcius. Disaat-saat seperti ini induk betina akan berubah menjadi sangat buas. Induk betina biasanya menyimpan telur-telurnya dengan membenamkannya di tanah atau di bawah seresah daun. Dan kemudian induk tersebut menunggu dari jarak beberapa meter.

Walaupun Buaya Buaya Muara (Crocodylus porosus) cukup mudah bertelur, namun tidak mudah bagi telur-telur tersebut untuk menetas. Penyebabnya selain karena faktor tanah yang tidak sesuai, perubahan suhu dan iklim, juga karena dimakan predator lain dan diburu manusia. Curah hujan yang tinggi akan mendukung kondisi Buaya Muara (Crocodylus porosus) untuk dapat berkembang biak lebih cepat. Sehingga upaya-upaya untuk mempertahankan habitat buaya yang mendukung bagi siklus hidupnya mulak diperlukan.
Saat menetas, bayi Buaya Muara (Crocodylus porosus) hanya berukuran 20-30 cm saja. Buaya Muara (Crocodylus porosus) mencapai ukuran lebih dari satu meter selama lebih kurang dua tahun. Masa dewasa dari satwa tersebut adalah setelah ia berumur lebih dari 12 tahun.
Pelepasan bibit pertama dipenangkaran Blanakan ini dilakukan pada bula Desember 1988 sebanyak 62 ekor yang didatangkan dari Kalimantan Barat, Palembang, dan kupang yang berusia antara 3-12 bulan. Tidak hanya dapat mengamati buaya, dipenangkaran buaya Blanakan ini dapat juga dilakukan bird watching, pengamatan satwa liar (ular sawah, burung Kuntul, babi hutan, dan kucing hutan) dan flora (rumput teki, rumput gajah, hamtuang, pasiran, bakau api-api, dan kaneka), dan hutan mangrove.
Pada bulan-bulan tertentu (biasanya Oktober-November), para nelayan dan masyakarat setempat mengadakan upacara tradisional dengan membuang kepala kerbau ke tengah laut setiap tahunnya yang dikenal dengan Pesta Laut.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Paris_Van_Java_Mall
http://id.wikipedia.org/wiki/Buaya_muara
http://id.wikipedia.org/wiki/Buaya
http://natuna.org/buaya-muara.html
brosur perhutani ""wana wisata Blanakan"